Aliran Dana dalam Bentuk Deposito Dikerahkan untuk Pengembangan Jaringan Ethereum

Saat ini, dana sebesar $25 miliar dikerahkan untuk proses pengembangan jaringan Ethereum (ETH). Dana dalam bentuk deposito ini dibagi dalam beberapa peruntukan. Salah satunya sebanyak 32 ETH yang kemudian menjadi validator di Ethereum Beacon Chain. Hal ini merupakan langkah pertama dalam transisi menuju consensus layer yang sebelumnya dikenal sebagai Ethereum 2.0.

Perubahan paling menonjol pasca terjadinya pengembangan adalah peralihan Ethereum dari algoritma konsensus proof-of-work (PoW) menuju mekanisme proof-of-stake (PoS). Selain itu, sebanyak 10 juta ETH yang saat ini terkunci dalam kontrak deposit akan memainkan peran penting dalam iterasi berikutnya.

Hal ini karena alih-alih mengandalkan komputasi berat dan beban energi yang sangat tinggi dalam memproses transaksi, desain PoS mampu menggantikan penambang dengan validator. Hal ini dapat mendorong penggunaan energi yang lebih sedikit dan pengeluaran biaya gas yang lebih terjangkau. Pada proses ini, validator dan Ethereum yang di-staking menciptakan insentif ekonomi dengan memproses transaksi yang sah. Apabila transaksi yang dilakukan merupakan bentuk penipuan, pengguna akan diwajibkan untuk membayar pinalti.

Baca juga Dampak Positif dan Negatif Popularitas Blockchain Ethereum

- Advertisement -

Meskipun persyaratan hardware dalam rangka menjalankan validator masih tergolong sulit bagi orang awam, pihak-pihak terkait tidak terlalu memberikan tuntutan berlebihan. Sebagai contoh membangun sebuah farm mining layaknya di Kazakhstan.

Validator juga akan dihargai karena telah menjadi ‘warga negara’ yang baik di dalam ekosistem. Berdasarkan staking rewards, saat ini para staker Ethereum 2.0 akan mendapatkan imbalan sebesar 4.8%. Sebagai perbandingan, melakukan staking pada aset Terra (LUNA) dan Solana (SOL) mampu memberikan keuntungan sebesar 6.07% dan 5.72% masing-masing.

Melihat secara lebih dekat pada kontrak deposito, entitas yang terlibat sangat bervariasi. Salah satunya adalah Kraken, dompet Ethereum yang terdaftar secara legal. Terkait hal tersebut, banyak bursa kripto seperti Kraken memberikan penawaran terhadap layanan staking bagi para penggunanya. Alih-alih menyiapkan validator di area masing-masing, pengguna dapat melakukan staking dengan bursa seperti Binance, Gemini, Coinbase, dan sebagainya guna mendapatkan imbalan yang serupa tanpa kerumitan tambahan.

Sumber: https://decrypt.co/94793/ethereum-2-0-staking-contract-holds-10-million-eth

Saat ini, dana sebesar $25 miliar dikerahkan untuk proses pengembangan jaringan Ethereum (ETH). Dana dalam bentuk deposito ini dibagi dalam beberapa peruntukan. Salah satunya sebanyak 32 ETH yang kemudian menjadi validator di Ethereum Beacon Chain. Hal ini merupakan langkah pertama dalam transisi menuju consensus layer yang sebelumnya dikenal sebagai Ethereum 2.0.

Perubahan paling menonjol pasca terjadinya pengembangan adalah peralihan Ethereum dari algoritma konsensus proof-of-work (PoW) menuju mekanisme proof-of-stake (PoS). Selain itu, sebanyak 10 juta ETH yang saat ini terkunci dalam kontrak deposit akan memainkan peran penting dalam iterasi berikutnya.

Hal ini karena alih-alih mengandalkan komputasi berat dan beban energi yang sangat tinggi dalam memproses transaksi, desain PoS mampu menggantikan penambang dengan validator. Hal ini dapat mendorong penggunaan energi yang lebih sedikit dan pengeluaran biaya gas yang lebih terjangkau. Pada proses ini, validator dan Ethereum yang di-staking menciptakan insentif ekonomi dengan memproses transaksi yang sah. Apabila transaksi yang dilakukan merupakan bentuk penipuan, pengguna akan diwajibkan untuk membayar pinalti.

Baca juga Dampak Positif dan Negatif Popularitas Blockchain Ethereum

Meskipun persyaratan hardware dalam rangka menjalankan validator masih tergolong sulit bagi orang awam, pihak-pihak terkait tidak terlalu memberikan tuntutan berlebihan. Sebagai contoh membangun sebuah farm mining layaknya di Kazakhstan.

Validator juga akan dihargai karena telah menjadi ‘warga negara’ yang baik di dalam ekosistem. Berdasarkan staking rewards, saat ini para staker Ethereum 2.0 akan mendapatkan imbalan sebesar 4.8%. Sebagai perbandingan, melakukan staking pada aset Terra (LUNA) dan Solana (SOL) mampu memberikan keuntungan sebesar 6.07% dan 5.72% masing-masing.

Melihat secara lebih dekat pada kontrak deposito, entitas yang terlibat sangat bervariasi. Salah satunya adalah Kraken, dompet Ethereum yang terdaftar secara legal. Terkait hal tersebut, banyak bursa kripto seperti Kraken memberikan penawaran terhadap layanan staking bagi para penggunanya. Alih-alih menyiapkan validator di area masing-masing, pengguna dapat melakukan staking dengan bursa seperti Binance, Gemini, Coinbase, dan sebagainya guna mendapatkan imbalan yang serupa tanpa kerumitan tambahan.

Sumber: https://decrypt.co/94793/ethereum-2-0-staking-contract-holds-10-million-eth

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here