Alasan Dibutuhkannya Transisi Jaringan Web2 Menuju Web3

Web3 dipuji sebagai paradigma teknologi yang didorong oleh evolusi internet. Ketika menggambarkan perbandingan evolusi dari teknologi yang menopang, mulai dari konsumsi informasi hingga pembuatan konten, Web2 berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang tidak tertandingi. Hal ini mewakili era signifikan dalam evolusi manusia dengan cara baru dalam bekerja, informasi konsumen, dan kemajuan peradaban manusia. Dengan kesuksesan Web2, mengapa transisi Web2 menuju Web3 dibutuhkan?

Dua konsep dasar teknologi yang memungkinkan untuk membedakan antara data (untuk validasi dan kebenaran) dan transfer nilai (untuk ekonomi partisipasi) adalah Web Semantik dan desentralisasi. Hal ini akan membentuk masa depan dan memfasilitasi transisi dari Web2 yang berkembang pesat ke Web3 yang berbasis kepemilikan.

Web Semantik memperluas gagasan tentang dokumen atau informasi di web menjadi data yang bernilai dan memfasilitasi informasi menjadi lebih bermakna ketika dihubungkan secara semantik dengan data. Kemudian, data diubah menjadi hal-hal yang bernilai dan mengarah ke monetisasi, serta elemen akuntabilitas prinsip Web3.

Baca juga Perusahaan Kripto Castle Island Ventures Meluncurkan Dana Sebesar $250 Juta untuk Proyek Web3

- Advertisement -

Di sisi lain, desentralisasi juga memfasilitasi jaringan peer-to-peer (P2P) seperti blockchain yang memungkinkan perpindahan nilai tokenized. Fondasi Web3 sangat kuat dengan pemrosesan, interkoneksi, dan penyimpanan terdesentralisasi. Sifat-sifat tersebut menyerupai infrastruktur cloud Web2 dengan struktur ekonomi dan titik kontrol yang berbeda.

Ketika proyek semakin berkembang, nilai-nilai token akan mencakup nilai kolektif dari infrastruktur, layanan, dan setiap fitur yang mendasarinya. Ekosistem yang saling bergantung ini akan berkembang sehingga ekosistem dan ekonomi yang baik akan menarik bakat, modal, dan sumber data dengan kepentingan bersama yang lebih terpelihara.

Saat ini, banyak layanan yang tersentralisasi sehingga tantangan sistem ekonomi juga melekat di dalamnya. Hal tersebut mendorong beberapa pihak memulai ide Web3 tanpa memiliki prinsip yang berkelanjutan. Kondisi demikian tampak jelas dengan volatilitas kripto dan peningkatan penyediaan likuiditas dari keuangan tradisional dalam bentuk stablecoin atau perbankan on-ramp yang memungkinkan aliran likuiditas bebas dari keuangan tradisional.

Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan sistem ekonomi dan juga tantangan di dalam sistem keuangan itu sendiri. Sehingga, keterkaitan volatilitas dan stabilitas pasar kripto merupakan sesuatu yang perlu dikaji lebih lanjut. Terutama terkait dampaknya terhadap volatilitas, sistem keuangan paralel, serta return yang didapatkan.

Sumber: https://cointelegraph.com/news/web3-relies-on-participatory-economics-and-that-is-what-is-missing-participation

Web3 dipuji sebagai paradigma teknologi yang didorong oleh evolusi internet. Ketika menggambarkan perbandingan evolusi dari teknologi yang menopang, mulai dari konsumsi informasi hingga pembuatan konten, Web2 berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang tidak tertandingi. Hal ini mewakili era signifikan dalam evolusi manusia dengan cara baru dalam bekerja, informasi konsumen, dan kemajuan peradaban manusia. Dengan kesuksesan Web2, mengapa transisi Web2 menuju Web3 dibutuhkan?

Dua konsep dasar teknologi yang memungkinkan untuk membedakan antara data (untuk validasi dan kebenaran) dan transfer nilai (untuk ekonomi partisipasi) adalah Web Semantik dan desentralisasi. Hal ini akan membentuk masa depan dan memfasilitasi transisi dari Web2 yang berkembang pesat ke Web3 yang berbasis kepemilikan.

Web Semantik memperluas gagasan tentang dokumen atau informasi di web menjadi data yang bernilai dan memfasilitasi informasi menjadi lebih bermakna ketika dihubungkan secara semantik dengan data. Kemudian, data diubah menjadi hal-hal yang bernilai dan mengarah ke monetisasi, serta elemen akuntabilitas prinsip Web3.

Baca juga Perusahaan Kripto Castle Island Ventures Meluncurkan Dana Sebesar $250 Juta untuk Proyek Web3

Di sisi lain, desentralisasi juga memfasilitasi jaringan peer-to-peer (P2P) seperti blockchain yang memungkinkan perpindahan nilai tokenized. Fondasi Web3 sangat kuat dengan pemrosesan, interkoneksi, dan penyimpanan terdesentralisasi. Sifat-sifat tersebut menyerupai infrastruktur cloud Web2 dengan struktur ekonomi dan titik kontrol yang berbeda.

Ketika proyek semakin berkembang, nilai-nilai token akan mencakup nilai kolektif dari infrastruktur, layanan, dan setiap fitur yang mendasarinya. Ekosistem yang saling bergantung ini akan berkembang sehingga ekosistem dan ekonomi yang baik akan menarik bakat, modal, dan sumber data dengan kepentingan bersama yang lebih terpelihara.

Saat ini, banyak layanan yang tersentralisasi sehingga tantangan sistem ekonomi juga melekat di dalamnya. Hal tersebut mendorong beberapa pihak memulai ide Web3 tanpa memiliki prinsip yang berkelanjutan. Kondisi demikian tampak jelas dengan volatilitas kripto dan peningkatan penyediaan likuiditas dari keuangan tradisional dalam bentuk stablecoin atau perbankan on-ramp yang memungkinkan aliran likuiditas bebas dari keuangan tradisional.

Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan sistem ekonomi dan juga tantangan di dalam sistem keuangan itu sendiri. Sehingga, keterkaitan volatilitas dan stabilitas pasar kripto merupakan sesuatu yang perlu dikaji lebih lanjut. Terutama terkait dampaknya terhadap volatilitas, sistem keuangan paralel, serta return yang didapatkan.

Sumber: https://cointelegraph.com/news/web3-relies-on-participatory-economics-and-that-is-what-is-missing-participation

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here