Morgan Stanley Melihat DeFi ‘Cukup Kecil’ karena Pertumbuhannya Melambat

Pertumbuhan eksponensial yang terlihat dalam keuangan terdesentralisasi (DeFi) dalam beberapa tahun terakhir mungkin akan melambat. Dalam sebuah laporan penelitian, Morgan Stanley menyampaikan bahwa pertumbuhan DeFi melambat karena rintangan seperti regulasi dan collateral yang semakin meningkat.

Bank sentral meluncurkan program pelonggaran telah memaksa para investor untuk mencari pengembalian di tempat baru. Morgan Stanley menjelaskan bahwa hal tersebut membawa dampak pada peningkatan total value locked (TVL) DeFi menjadi sekitar $200 miliar, sebelumnya hanya $600 juta pada 2020. Berbagai proyek DeFi menawarkan pengembalian tinggi untuk menarik pengguna dan ini membawa dampak positif bagi platform.

Secara umum, DeFi adalah istilah yang digunakan untuk aktivitas peminjaman, perdagangan, dan aktivitas keuangan lainnya yang dilakukan di blockchain. DeFi tidak memerlukan perantara tradisional.

Baca juga Eks Eksekutif Citadel Perihal Kripto: “Anda Tidak Perlu Menjadi Ahli DeFi”

- Advertisement -

DeFi tidak memiliki perantara telah menjadi daya tarik dari sektor tersebut, para pendukung mengajukan DeFi sebagai cara untuk meningkatkan sistem keuangan yang ada. Namun, Morgan Stanley mengatakan belum ada banyak bukti bahwa kinerja protokol DeFi lebih efisien daripada sistem keuangan saat ini.

“Bagi kami, protokol DeFi tampak seperti cara untuk menarik arus kas guna memperkaya operator protokol. DeFi rentan terhadap peretasan dan berisiko terhadap kejahatan keuangan karena anonimitas adalah fitur utama,” jelas Morgan Stanley dalam laporan tersebut.

Perusahaan perbankan tersebut menyoroti kurangnya informasi know-your-client (KCY) dan anti-money laundering (AML) akan membatasi adopsi institusional. Perusahaan beralasan bahwa memperkenalkan persyaratan KYC/AML akan memaksa DeFi menjadi lebih terpusat.

Dalam laporan tersebut, Morgan Stanley menjelaskan bahwa collateral yang tinggi dalam pinjam-meminjamkan menandakan bahwa pinjaman DeFi tidak memperluas pasokan uang (dalam cryptocurrency yang sama).

“Tanpa sentralisasi, DeFi akan lebih sulit untuk dilihat sebagai alternatif dari pendekatan perbankan cadangan fraksional saat ini. Oleh karena itu, kami melihat DeFi masih tetap kecil di tahun-tahun mendatang,” jelas perusahaan.

Selain collateral yang tinggi, regulator lambat dalam menghadapi ledakan di DeFi juga menjadi salah satu faktor yang memperlambat pertumbuhan sektor tersebut. “Protokol DeFi tidak dikendalikan oleh entitas pusat dan tidak harus didaftarkan, di sisi lain pengawasan juga akan terus meningkat.”

Sumber: Coindesk

Pertumbuhan eksponensial yang terlihat dalam keuangan terdesentralisasi (DeFi) dalam beberapa tahun terakhir mungkin akan melambat. Dalam sebuah laporan penelitian, Morgan Stanley menyampaikan bahwa pertumbuhan DeFi melambat karena rintangan seperti regulasi dan collateral yang semakin meningkat.

Bank sentral meluncurkan program pelonggaran telah memaksa para investor untuk mencari pengembalian di tempat baru. Morgan Stanley menjelaskan bahwa hal tersebut membawa dampak pada peningkatan total value locked (TVL) DeFi menjadi sekitar $200 miliar, sebelumnya hanya $600 juta pada 2020. Berbagai proyek DeFi menawarkan pengembalian tinggi untuk menarik pengguna dan ini membawa dampak positif bagi platform.

Secara umum, DeFi adalah istilah yang digunakan untuk aktivitas peminjaman, perdagangan, dan aktivitas keuangan lainnya yang dilakukan di blockchain. DeFi tidak memerlukan perantara tradisional.

Baca juga Eks Eksekutif Citadel Perihal Kripto: “Anda Tidak Perlu Menjadi Ahli DeFi”

DeFi tidak memiliki perantara telah menjadi daya tarik dari sektor tersebut, para pendukung mengajukan DeFi sebagai cara untuk meningkatkan sistem keuangan yang ada. Namun, Morgan Stanley mengatakan belum ada banyak bukti bahwa kinerja protokol DeFi lebih efisien daripada sistem keuangan saat ini.

“Bagi kami, protokol DeFi tampak seperti cara untuk menarik arus kas guna memperkaya operator protokol. DeFi rentan terhadap peretasan dan berisiko terhadap kejahatan keuangan karena anonimitas adalah fitur utama,” jelas Morgan Stanley dalam laporan tersebut.

Perusahaan perbankan tersebut menyoroti kurangnya informasi know-your-client (KCY) dan anti-money laundering (AML) akan membatasi adopsi institusional. Perusahaan beralasan bahwa memperkenalkan persyaratan KYC/AML akan memaksa DeFi menjadi lebih terpusat.

Dalam laporan tersebut, Morgan Stanley menjelaskan bahwa collateral yang tinggi dalam pinjam-meminjamkan menandakan bahwa pinjaman DeFi tidak memperluas pasokan uang (dalam cryptocurrency yang sama).

“Tanpa sentralisasi, DeFi akan lebih sulit untuk dilihat sebagai alternatif dari pendekatan perbankan cadangan fraksional saat ini. Oleh karena itu, kami melihat DeFi masih tetap kecil di tahun-tahun mendatang,” jelas perusahaan.

Selain collateral yang tinggi, regulator lambat dalam menghadapi ledakan di DeFi juga menjadi salah satu faktor yang memperlambat pertumbuhan sektor tersebut. “Protokol DeFi tidak dikendalikan oleh entitas pusat dan tidak harus didaftarkan, di sisi lain pengawasan juga akan terus meningkat.”

Sumber: Coindesk

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here