Menteri Rusia Menginginkan Peraturan Hukum Diperbaiki untuk Crypto Mining

Ketika situasi Ukraina-Rusia memburuk, Evgeny Grabchak, Wakil Menteri Energi Rusia, mulai mempertimbangkan Rusia menjadi pusat crypto mining dalam memerangi sanksi yang mengancam perekonomian negara tersebut.

Wakil Menteri Energi Rusia menyatakan dalam laporan TASS, bahwa kesenjangan hukum pada crypto mining harus segera diatasi. Ia mengatakan:

“Kekosongan hukum saat ini tidak memungkinkan pengelolaan sektor crypto secara efektif dan menetapkan prinsip-prinsip dasar yang jelas. Jika kita ingin hidup berdampingan dengan industri ini, kita harus menetapkan regulasi hukum yang jelas terkait konsep mining.” jelasnya.

Regulasi Berpotensi Membuka Banyak Kemungkinan

- Advertisement -

Kementerian Keuangan Rusia mengembangkan UU berfokus pada regulasi cryptocurrency bulan Februari 2022 lalu. Hal ini membuka kemungkinan untuk menguji coba bisnis cryptocurrency mining, meskipun terdapat permintaan bank sentral untuk melarang cryptocurrency.

Meskipun RUU ini mengklasifikasikan mining sebagai aktivitas yang berfokus pada mendapatkan cryptocurrency, pada kenyataannya, ini adalah proses di mana node pada jaringan Bitcoin bersaing dalam mendapatkan kesempatan untuk memvalidasi blok transaksi dan menghasilkan Bitcoin baru.

Baca juga Crypto Staking, Fitur Cryptocurrency Berbasis PoS untuk Menghasilkan Passive Income

Putin Menegaskan bahwa Rusia Menikmati Keunggulan Kompetitif

Vladimir Putin menyadari bahaya yang terkait pada mining. Terlepas dari kekurangannya, Ia menekankan keuntungan Rusia yang berlimpah energi dan tenaga kerja yang sangat terampil. Ia menyatakan keuntungan tersebut lebih besar dibandingkan risikonya.

Belarus, tetangga negara Rusia, menyatakan pada Januari 2022 bahwa mereka akan mempertahankan kebijakannya saat ini. Pada Januari 2022, Rusia mendapat peringkat ketiga di dunia untuk persentase kekuatan pemrosesan penambangan kolektif, atau hashrate.

Pekan lalu, Ketua Komite Energi Pavel Zavalny mengusulkan agar Bitcoin diperkenalkan sebagai cara pembayaran untuk ekspor energi ke negara-negara pro-Rusia. Adopsi ini terjadi setelah Uni Eropa menolak proposalnya agar pembeli energi Rusia membayar dengan emas atau mata uang fiat Rusia (rubel).

Bank sentral Rusia telah memberikan Sberbank, bank terbesar di negara itu, lisensi untuk memperdagangkan aset kripto, meskipun terdapat seruan untuk larangan nasional terhadap mata uang kripto.

Sumber: Beincrypto

Ketika situasi Ukraina-Rusia memburuk, Evgeny Grabchak, Wakil Menteri Energi Rusia, mulai mempertimbangkan Rusia menjadi pusat crypto mining dalam memerangi sanksi yang mengancam perekonomian negara tersebut.

Wakil Menteri Energi Rusia menyatakan dalam laporan TASS, bahwa kesenjangan hukum pada crypto mining harus segera diatasi. Ia mengatakan:

“Kekosongan hukum saat ini tidak memungkinkan pengelolaan sektor crypto secara efektif dan menetapkan prinsip-prinsip dasar yang jelas. Jika kita ingin hidup berdampingan dengan industri ini, kita harus menetapkan regulasi hukum yang jelas terkait konsep mining.” jelasnya.

Regulasi Berpotensi Membuka Banyak Kemungkinan

Kementerian Keuangan Rusia mengembangkan UU berfokus pada regulasi cryptocurrency bulan Februari 2022 lalu. Hal ini membuka kemungkinan untuk menguji coba bisnis cryptocurrency mining, meskipun terdapat permintaan bank sentral untuk melarang cryptocurrency.

Meskipun RUU ini mengklasifikasikan mining sebagai aktivitas yang berfokus pada mendapatkan cryptocurrency, pada kenyataannya, ini adalah proses di mana node pada jaringan Bitcoin bersaing dalam mendapatkan kesempatan untuk memvalidasi blok transaksi dan menghasilkan Bitcoin baru.

Baca juga Crypto Staking, Fitur Cryptocurrency Berbasis PoS untuk Menghasilkan Passive Income

Putin Menegaskan bahwa Rusia Menikmati Keunggulan Kompetitif

Vladimir Putin menyadari bahaya yang terkait pada mining. Terlepas dari kekurangannya, Ia menekankan keuntungan Rusia yang berlimpah energi dan tenaga kerja yang sangat terampil. Ia menyatakan keuntungan tersebut lebih besar dibandingkan risikonya.

Belarus, tetangga negara Rusia, menyatakan pada Januari 2022 bahwa mereka akan mempertahankan kebijakannya saat ini. Pada Januari 2022, Rusia mendapat peringkat ketiga di dunia untuk persentase kekuatan pemrosesan penambangan kolektif, atau hashrate.

Pekan lalu, Ketua Komite Energi Pavel Zavalny mengusulkan agar Bitcoin diperkenalkan sebagai cara pembayaran untuk ekspor energi ke negara-negara pro-Rusia. Adopsi ini terjadi setelah Uni Eropa menolak proposalnya agar pembeli energi Rusia membayar dengan emas atau mata uang fiat Rusia (rubel).

Bank sentral Rusia telah memberikan Sberbank, bank terbesar di negara itu, lisensi untuk memperdagangkan aset kripto, meskipun terdapat seruan untuk larangan nasional terhadap mata uang kripto.

Sumber: Beincrypto

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here