Inflasi Mendorong Adopsi Cryptocurrency di Negara Berkembang

Industri kripto memiliki beberapa keunggulan, namun yang paling umum digunakan adalah untuk menghindari kenaikan inflasi. Menurut utas Twitter CoinMarketCap baru-baru ini, warga negara berkembang yang mengalami inflasi, sebagian besar menggunakan aset kripto sebagai lindung nilai terhadap devaluasi mata uang nasional mereka.

Venezuela Melakukan Lindung Nilai terhadap Inflasi dengan Cryptocurrency

Tingkat inflasi Venezuela, menurut CoinMarketCap, berada pada rekor tertinggi sebesar 472%. Alhasil, sebagian besar warganya menggunakan cryptocurrency. Menurut survei, negara ini memiliki 2,9 juta pengguna cryptocurrency, atau 10,23% dari populasinya.

Bitcoin dan Altcoin umumnya dianggap sebagai lindung nilai inflasi, karena mereka dapat menjadi pengganti mata uang fiat. Selain itu, survei menunjukkan bahwa negara-negara dengan inflasi tinggi lainnya seperti Brasil, Nigeria, Pakistan, dan Kolombia telah menerima cryptocurrency sebagai alternatif yang layak untuk mata uang fiat nasional mereka.

- Advertisement -

Baca juga Binance Meluncurkan Kartu Crypto Charity untuk Warga Ukraina yang Membutuhkan Bantuan

Sementara itu, sekitar 8% orang Amerika – yang juga mengalami inflasi yang parah – telah mengadopsi industri aset digital.

Kurangnya Akses Internet Membatasi Pengadopsian Crypto

Menurut penelitian CoinMarketCap, sejumlah negara dengan tingkat inflasi ekstrim, seperti Sudan dan Lebanon, yang memiliki tingkat inflasi lebih dari 200%, dan Suriah, yang memiliki tingkat inflasi 139,46%, masih memiliki tingkat pengadopsian crypto yang rendah. Laporan tersebut mencatat bahwa hanya 0,91% penduduk Sudan telah mengadopsi kripto, sementara persentase di Suriah dan Lebanon tidak mencapai 1%.

Tingkat adopsi yang rendah ini tidak mencerminkan sikap penduduk terhadap cryptocurrency. Alih-alih itu, ini menunjukkan kesulitan mendapatkan layanan kripto sebagai akibat dari konektivitas internet yang terbatas dan kurangnya jalur on/off fiat. Kerusuhan politik juga bisa menjadi salah satu faktornya.

Penduduk Negara Berkembang Lebih Memilih Stablecoin

Stablecoin, seperti USDT, lebih disukai oleh penduduk di negara-negara berkembang. Alasannya ialah aset ini lebih stabil daripada aset digital yang bersifat volatil seperti Bitcoin. Penduduk di kalangan menengah ke atas, di sisi lain, mengambil lebih banyak risiko dengan berinvestasi dalam mata uang kripto yang fluktuatif ini.

CoinMarketCap menyatakan bahwa pengembangan stablecoin DeFi-native oleh MakerDao, Anchor Protocol, dan lainnya, suatu hari nanti dapat membantu pemegang stablecoin dalam melakukan lindung nilai terhadap kenaikan inflasi.

Sumber: Cryptoslate

Industri kripto memiliki beberapa keunggulan, namun yang paling umum digunakan adalah untuk menghindari kenaikan inflasi. Menurut utas Twitter CoinMarketCap baru-baru ini, warga negara berkembang yang mengalami inflasi, sebagian besar menggunakan aset kripto sebagai lindung nilai terhadap devaluasi mata uang nasional mereka.

Venezuela Melakukan Lindung Nilai terhadap Inflasi dengan Cryptocurrency

Tingkat inflasi Venezuela, menurut CoinMarketCap, berada pada rekor tertinggi sebesar 472%. Alhasil, sebagian besar warganya menggunakan cryptocurrency. Menurut survei, negara ini memiliki 2,9 juta pengguna cryptocurrency, atau 10,23% dari populasinya.

Bitcoin dan Altcoin umumnya dianggap sebagai lindung nilai inflasi, karena mereka dapat menjadi pengganti mata uang fiat. Selain itu, survei menunjukkan bahwa negara-negara dengan inflasi tinggi lainnya seperti Brasil, Nigeria, Pakistan, dan Kolombia telah menerima cryptocurrency sebagai alternatif yang layak untuk mata uang fiat nasional mereka.

Baca juga Binance Meluncurkan Kartu Crypto Charity untuk Warga Ukraina yang Membutuhkan Bantuan

Sementara itu, sekitar 8% orang Amerika – yang juga mengalami inflasi yang parah – telah mengadopsi industri aset digital.

Kurangnya Akses Internet Membatasi Pengadopsian Crypto

Menurut penelitian CoinMarketCap, sejumlah negara dengan tingkat inflasi ekstrim, seperti Sudan dan Lebanon, yang memiliki tingkat inflasi lebih dari 200%, dan Suriah, yang memiliki tingkat inflasi 139,46%, masih memiliki tingkat pengadopsian crypto yang rendah. Laporan tersebut mencatat bahwa hanya 0,91% penduduk Sudan telah mengadopsi kripto, sementara persentase di Suriah dan Lebanon tidak mencapai 1%.

Tingkat adopsi yang rendah ini tidak mencerminkan sikap penduduk terhadap cryptocurrency. Alih-alih itu, ini menunjukkan kesulitan mendapatkan layanan kripto sebagai akibat dari konektivitas internet yang terbatas dan kurangnya jalur on/off fiat. Kerusuhan politik juga bisa menjadi salah satu faktornya.

Penduduk Negara Berkembang Lebih Memilih Stablecoin

Stablecoin, seperti USDT, lebih disukai oleh penduduk di negara-negara berkembang. Alasannya ialah aset ini lebih stabil daripada aset digital yang bersifat volatil seperti Bitcoin. Penduduk di kalangan menengah ke atas, di sisi lain, mengambil lebih banyak risiko dengan berinvestasi dalam mata uang kripto yang fluktuatif ini.

CoinMarketCap menyatakan bahwa pengembangan stablecoin DeFi-native oleh MakerDao, Anchor Protocol, dan lainnya, suatu hari nanti dapat membantu pemegang stablecoin dalam melakukan lindung nilai terhadap kenaikan inflasi.

Sumber: Cryptoslate

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here