Sarah Monson, Seorang Ibu yang Ikut Terlibat dalam Pengembangan Pasar Kripto

Ketika Facebook mengubah namanya menjadi Meta dan berfokus pada teknologi metaverse, Sarah Monson mengakui bahwa pemberitaan itu sedikit menganggunya.

“Saya sempat berpikir bahwa Mark Zuckerberg akan menyeret semua orang untuk masuk ke metaverse. Suka atau tidak suka, kita tidak memiliki suara untuk menolak ini,” kata Monson dalam sebuah wawancancara di koferensi NFT Los Angeles. Sarah Monson adalah seorang penulis komersial dan ibu berusia 44 tahun.

Walaupun sempat memiliki pandangan skeptis, Monson memutuskan untuk mengambil langkah terbaik yaitu dengan mempelajari teknologi metaverse, cryptocurrency, dan NFT.

“Intinya adalah saya ingin mendidik diri saya sendiri,” kata Monson dan menambahkan bahwa ia tidak ingin tertinggal oleh perkembangan teknologi terbaru ini, termasuk pasar keuangan modern. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk pindah ke Hawaii dari tempat tinggal sebelumnya di Seattle.

- Advertisement -

Monson pertama kali mulai berinvestasi di kripto beberapa tahun lalu, tetapi ia menghabiskan lima bulan terakhir untuk terjun ke kripto melalui siaran podcast, bergabung dengan komunitas melalui server Discord, dan menjalin relasi dengan kelompok ibu-ibu yang juga terlibat dalam pasar kripto.

Ibu berusia 44 tahun bukan hanya seorang investor kripto, tetapi ia juga seorang seniman NFT. Monson berencana akan meluncurkan koleksi NFT yang ia juluki ‘The Latchkey Kids,’ referensi untuk anggota generasinya yang lahir pada era 70-an dan 80-an.

Baca juga Tiga Perempuan yang Mengubah Masa Depan Kripto

Monson berharap bahwa akan ada banyak keterlibatan kaum perempuan, termasuk kalangan ibu-ibu, dalam pasar kripto. Ia berpendapat bahwa kripto dan NFT akan mengubah keamanan finansial keluarga mereka untuk generasi yang akan datang.

Pendapat sama diutarakan oleh Olayinka Odeniran, pendiri Black Women Blockchain Council; sebuah organisasi yang mendukung karir perempuan ras Afrika-Amerika di industri blockchain dan fintech.

“Pendekatan kami berbeda dengan para pria atau wanita lajang yang di sini hanya untuk berinvestasi. Kami di sini benar-benar karena kami ingin meninggalkan sesuatu untuk keluarga kami dan kami ingin mereka dapat berpartisipasi di tempat kami,” kata Odeniran.

Walaupun pasar kripto sedang menghadapi era bullish, gelombang baru organisasi bertema wanita terus muncul dengan tujuan untuk mendorong lebih banyak wanita untuk berpartisipasi dalam kripto.

Sumber: Nbcnews

Ketika Facebook mengubah namanya menjadi Meta dan berfokus pada teknologi metaverse, Sarah Monson mengakui bahwa pemberitaan itu sedikit menganggunya.

“Saya sempat berpikir bahwa Mark Zuckerberg akan menyeret semua orang untuk masuk ke metaverse. Suka atau tidak suka, kita tidak memiliki suara untuk menolak ini,” kata Monson dalam sebuah wawancancara di koferensi NFT Los Angeles. Sarah Monson adalah seorang penulis komersial dan ibu berusia 44 tahun.

Walaupun sempat memiliki pandangan skeptis, Monson memutuskan untuk mengambil langkah terbaik yaitu dengan mempelajari teknologi metaverse, cryptocurrency, dan NFT.

“Intinya adalah saya ingin mendidik diri saya sendiri,” kata Monson dan menambahkan bahwa ia tidak ingin tertinggal oleh perkembangan teknologi terbaru ini, termasuk pasar keuangan modern. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk pindah ke Hawaii dari tempat tinggal sebelumnya di Seattle.

Monson pertama kali mulai berinvestasi di kripto beberapa tahun lalu, tetapi ia menghabiskan lima bulan terakhir untuk terjun ke kripto melalui siaran podcast, bergabung dengan komunitas melalui server Discord, dan menjalin relasi dengan kelompok ibu-ibu yang juga terlibat dalam pasar kripto.

Ibu berusia 44 tahun bukan hanya seorang investor kripto, tetapi ia juga seorang seniman NFT. Monson berencana akan meluncurkan koleksi NFT yang ia juluki ‘The Latchkey Kids,’ referensi untuk anggota generasinya yang lahir pada era 70-an dan 80-an.

Baca juga Tiga Perempuan yang Mengubah Masa Depan Kripto

Monson berharap bahwa akan ada banyak keterlibatan kaum perempuan, termasuk kalangan ibu-ibu, dalam pasar kripto. Ia berpendapat bahwa kripto dan NFT akan mengubah keamanan finansial keluarga mereka untuk generasi yang akan datang.

Pendapat sama diutarakan oleh Olayinka Odeniran, pendiri Black Women Blockchain Council; sebuah organisasi yang mendukung karir perempuan ras Afrika-Amerika di industri blockchain dan fintech.

“Pendekatan kami berbeda dengan para pria atau wanita lajang yang di sini hanya untuk berinvestasi. Kami di sini benar-benar karena kami ingin meninggalkan sesuatu untuk keluarga kami dan kami ingin mereka dapat berpartisipasi di tempat kami,” kata Odeniran.

Walaupun pasar kripto sedang menghadapi era bullish, gelombang baru organisasi bertema wanita terus muncul dengan tujuan untuk mendorong lebih banyak wanita untuk berpartisipasi dalam kripto.

Sumber: Nbcnews

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here