Currency.com Mengonfirmasi Gagalnya Upaya Kejahatan Siber Rusia

Currency.com mengonfirmasi bahwa platform trading kripto mereka mengalami upaya serangan siber besar-besaran di Rusia pada minggu lalu. Dalam siaran pers yang dibagikan dengan Finance Magnates, platform tersebut menyebutkan bahwa mereka mengalami serangan siber ‘denial of service’ (DDoS). Akan tetapi, mereka menekankan bahwa serangan tersebut tidak berhasil dilakukan, dan seluruh akun serta data pelanggan masih tetap aman.

Dalam serangan DDoS tersebut, peretas berupaya membombardir platform dengan sejumlah permintaan layanan yang bertujuan untuk merusak infrastrukturnya. Sebelumnya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa peretas Rusia juga menargetkan kementerian pertahanan dan sektor keuangan negara tersebut dengan serangan DDoS.

Pendiri Currency.com, Viktor Prokopenya mengatakan bahwa Currency.com telah menganggap keamanan sebagai masalah yang perlu perhatian khusus, terutama bagi para investor ketika memilih platform trading. Karena tingkat keamanan Currency.com yang ketat, mereka dapat menggagalkan upaya serangan-serangan DDoS tersebut. Mereka juga meyakinkan bahwa semua server, sistem, dan data klien mereka masih tetap utuh dan aman.

Currency.com merupakan platform yang menawarkan layanan trading kripto di seluruh Eropa. Platform ini dimiliki oleh miliarder asal Belarusia dan beroperasi dari kantornya di London, Gibraltar, dan Vilnius.

- Advertisement -

Baca juga Rusia akan Melegalkan Cryptocurrency sebagai Metode Pembayaran

Currency.com telah menjadi platform trading kripto besar pertama yang menarik diri dari Rusia di tengah invasi Ukraina oleh tentara Rusia. Sementara itu, bursa kripto lainnya seperti Binance dan Coinbase memutuskan untuk melanjutkan operasi mereka di Rusia dan memutuskan hanya akan menghentikan layanan untuk individu dan entitas yang terkena sanksi.

Prokopenya mengonfirmasi bahwa staf dukungan pelanggan platform kriptonya dibombardir dengan panggilan kasar dan ancaman kematian setelah platform tersebut memutuskan untuk menangguhkan operasinya di Rusia. Setelah itu, muncullah upaya serangan siber di platform tersebut.

Ia juga mengatakan bahwa Currency.com sebelumnya sudah pernah menghadapi beberapa upaya serangan siber. Akan tetapi, serangan yang mereka hadapi kali ini sepuluh kali lebih intens dari serangan siber yang sebelumnya pernah mereka hadapi.

Sumber: Financemagnates

Currency.com mengonfirmasi bahwa platform trading kripto mereka mengalami upaya serangan siber besar-besaran di Rusia pada minggu lalu. Dalam siaran pers yang dibagikan dengan Finance Magnates, platform tersebut menyebutkan bahwa mereka mengalami serangan siber ‘denial of service’ (DDoS). Akan tetapi, mereka menekankan bahwa serangan tersebut tidak berhasil dilakukan, dan seluruh akun serta data pelanggan masih tetap aman.

Dalam serangan DDoS tersebut, peretas berupaya membombardir platform dengan sejumlah permintaan layanan yang bertujuan untuk merusak infrastrukturnya. Sebelumnya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa peretas Rusia juga menargetkan kementerian pertahanan dan sektor keuangan negara tersebut dengan serangan DDoS.

Pendiri Currency.com, Viktor Prokopenya mengatakan bahwa Currency.com telah menganggap keamanan sebagai masalah yang perlu perhatian khusus, terutama bagi para investor ketika memilih platform trading. Karena tingkat keamanan Currency.com yang ketat, mereka dapat menggagalkan upaya serangan-serangan DDoS tersebut. Mereka juga meyakinkan bahwa semua server, sistem, dan data klien mereka masih tetap utuh dan aman.

Currency.com merupakan platform yang menawarkan layanan trading kripto di seluruh Eropa. Platform ini dimiliki oleh miliarder asal Belarusia dan beroperasi dari kantornya di London, Gibraltar, dan Vilnius.

Baca juga Rusia akan Melegalkan Cryptocurrency sebagai Metode Pembayaran

Currency.com telah menjadi platform trading kripto besar pertama yang menarik diri dari Rusia di tengah invasi Ukraina oleh tentara Rusia. Sementara itu, bursa kripto lainnya seperti Binance dan Coinbase memutuskan untuk melanjutkan operasi mereka di Rusia dan memutuskan hanya akan menghentikan layanan untuk individu dan entitas yang terkena sanksi.

Prokopenya mengonfirmasi bahwa staf dukungan pelanggan platform kriptonya dibombardir dengan panggilan kasar dan ancaman kematian setelah platform tersebut memutuskan untuk menangguhkan operasinya di Rusia. Setelah itu, muncullah upaya serangan siber di platform tersebut.

Ia juga mengatakan bahwa Currency.com sebelumnya sudah pernah menghadapi beberapa upaya serangan siber. Akan tetapi, serangan yang mereka hadapi kali ini sepuluh kali lebih intens dari serangan siber yang sebelumnya pernah mereka hadapi.

Sumber: Financemagnates

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here