Mengatasi Deforestasi Lahan dengan Teknologi Blockchain

Berdasarkan penilaian terbaru oleh panel ilmu iklim PBB, para ahli menekankan manfaat potensial dari solusi alami untuk memerangi pemanasan global, terutama mitigasi berbasis lahan.

Berdasarkan laporan tersebut, jika komitmen iklim nasional saat ini terpenuhi, mereka tidak akan secara efektif membatasi pemanasan global hingga 1.5oC. Saat ini, tanpa tindakan signifikan, pemanasan global mencapai 2.2oC.

Sementara bahan bakar fosil diidentifikasi sebagai penyebab utama, terdapat konsensus bahwa sektor penggunaan lahan yang dikelola dengan baik dapat berkontribusi pada pengurangan emisi, menghilangkan, serta menyimpan karbon dioksida. Sektor tata guna lahan menyumbang sekitar 50% untuk pengurangan emisi.

Melalui restorasi lahan dan penggunaan teknik pengelolaan lahan terpadu, para akademisi mengatakan bahwa lintasan pemanasan global yang terus meningkat akan berkurang. Selain itu, restorasi lahan juga akan menguntungkan keanekaragaman hayati dan ekosistem. Di sisi lain, bukan hal mudah untuk memulihkan lahan terdegradasi yang diperkirakan mencapai 25% dari luas lahan di seluruh dunia.

- Advertisement -

Baca juga Snoop Dogg Memperluas Jangkauan Investasi Kripto-nya dengan Meluncurkan Koleksi NFT di Blockchain Cardano

Di sinilah Open Forest Protocol (OFP) yang merupakan platform berbasis blockchain open-source, membuat perubahan besar. OFP berperan menyelesaikan hambatan dengan membuat pengukuran, pelaporan serta verifikasi (MRV) yang akurat dan transparan.

Aplikasi blockchain berbasis web ini dirancang untuk memberikan kemampuan kepada petani kecil, pengguna lahan, lembaga swadaya masyarakat, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengukur dan memverifikasi karbon di lahan mereka.

Dengan begitu, mereka dapat menutup pembayaran berbasis hasil. Hal ini karena pengguna blockchain menciptakan sarana transparan dan aman untuk menyimpan informasi yang tidak dapat diubah.

Saat ini, upaya reboisasi sering terhambat oleh kurangnya keakuratan data. Sehingga sulit untuk menentukan apakah data tersebut mencerminkan status sebuah pohon dalam sebuah lahan.

Pada bulan Maret, OFP yang merupakan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional dan Agroforestri Dunia (CIFOR-ICRAF) menandatangani perjanjian dengan Ivory Coast untuk bekerja dengan masyarakat lokal dan organisasi non-pemerintah. Tujuannya adalah untuk menghutankan kembali dan merestorasi 5.067 hektar lahan hutan Gorke yang terdegradasi secara berkelanjutan.

Pengguna dapat memantau web interface di dasbor yang menampilkan daftar proyek, menugaskan agen lapangan ke proyek tertentu, memeriksa data setelah dikumpulkan dari lapangan, dan pemeriksaan ulang. Setelah itu, data dapat dikirim melalui dasbor untuk validasi dalam komunitas blockchain sebagai pihak ketiga yang menjalankannya.

Sumber: Forestnews

Berdasarkan penilaian terbaru oleh panel ilmu iklim PBB, para ahli menekankan manfaat potensial dari solusi alami untuk memerangi pemanasan global, terutama mitigasi berbasis lahan.

Berdasarkan laporan tersebut, jika komitmen iklim nasional saat ini terpenuhi, mereka tidak akan secara efektif membatasi pemanasan global hingga 1.5oC. Saat ini, tanpa tindakan signifikan, pemanasan global mencapai 2.2oC.

Sementara bahan bakar fosil diidentifikasi sebagai penyebab utama, terdapat konsensus bahwa sektor penggunaan lahan yang dikelola dengan baik dapat berkontribusi pada pengurangan emisi, menghilangkan, serta menyimpan karbon dioksida. Sektor tata guna lahan menyumbang sekitar 50% untuk pengurangan emisi.

Melalui restorasi lahan dan penggunaan teknik pengelolaan lahan terpadu, para akademisi mengatakan bahwa lintasan pemanasan global yang terus meningkat akan berkurang. Selain itu, restorasi lahan juga akan menguntungkan keanekaragaman hayati dan ekosistem. Di sisi lain, bukan hal mudah untuk memulihkan lahan terdegradasi yang diperkirakan mencapai 25% dari luas lahan di seluruh dunia.

Baca juga Snoop Dogg Memperluas Jangkauan Investasi Kripto-nya dengan Meluncurkan Koleksi NFT di Blockchain Cardano

Di sinilah Open Forest Protocol (OFP) yang merupakan platform berbasis blockchain open-source, membuat perubahan besar. OFP berperan menyelesaikan hambatan dengan membuat pengukuran, pelaporan serta verifikasi (MRV) yang akurat dan transparan.

Aplikasi blockchain berbasis web ini dirancang untuk memberikan kemampuan kepada petani kecil, pengguna lahan, lembaga swadaya masyarakat, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengukur dan memverifikasi karbon di lahan mereka.

Dengan begitu, mereka dapat menutup pembayaran berbasis hasil. Hal ini karena pengguna blockchain menciptakan sarana transparan dan aman untuk menyimpan informasi yang tidak dapat diubah.

Saat ini, upaya reboisasi sering terhambat oleh kurangnya keakuratan data. Sehingga sulit untuk menentukan apakah data tersebut mencerminkan status sebuah pohon dalam sebuah lahan.

Pada bulan Maret, OFP yang merupakan Pusat Penelitian Kehutanan Internasional dan Agroforestri Dunia (CIFOR-ICRAF) menandatangani perjanjian dengan Ivory Coast untuk bekerja dengan masyarakat lokal dan organisasi non-pemerintah. Tujuannya adalah untuk menghutankan kembali dan merestorasi 5.067 hektar lahan hutan Gorke yang terdegradasi secara berkelanjutan.

Pengguna dapat memantau web interface di dasbor yang menampilkan daftar proyek, menugaskan agen lapangan ke proyek tertentu, memeriksa data setelah dikumpulkan dari lapangan, dan pemeriksaan ulang. Setelah itu, data dapat dikirim melalui dasbor untuk validasi dalam komunitas blockchain sebagai pihak ketiga yang menjalankannya.

Sumber: Forestnews

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here