Pengadopsian Bitcoin oleh Republik Afrika Tengah Membuat Warganya Kebingungan

Listen Audio Button

Republik Afrika Tengah (CAR) mengikuti jejak El Salvador dalam mengadopsi Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah. Mata uang ini membutuhkan akses internet untuk dibeli, dijual, maupun digunakan. Sedangkan sembilan dari sepuluh masyarakat CAR tidak memiliki internet.

Pakar asing dan masyarakat CAR tengah berupaya untuk memahami alasan dari pengambilan langkah tersebut. Beberapa orang yang tengah mengantri di sebuah mesin ATM yang langka di Bangui terlihat kebingungan ketika mendengar kata ‘Bitcoin.’

“Apa itu?” tanya Sylvian yang menunggu gilirannya menggunakan mesin ATM yang beroperasi dengan generator.

- Advertisement -

“Saya tidak tahu apa itu cryptocurrency, saya bahkan tidak punya internet.” Kata Joelle yang merupakan seorang pedagang sayur.

Pada 28 April lalu, Presiden Faustin Archange Touadera mengumumkan bahwa anggota parlemen telah menyetujui RUU yang melegalkan penggunaan Bitcoin bersama dengan franc CFA. Seluruh transaksi menggunakan cryptocurrency termasuk pembayaran pajak tengah diotorisasi.

Baca juga Joe Rogan: Bitcoin akan Menjadi Mata Uang yang Layak

Juru bicara pemerintah Serge Ghislain Djorie mengatakan, “kami akan meluncurkan kampanye kesadaran dan segera memperkenalkan koneksi internet yang cukup untuk membeli cryptocurrency.”

Akan tetapi, muncul skeptisme yang besar di antara komunitas bisnis CAR. Padahal, secara teori Republik Afrika Tengah adalah yang paling ideal dalam menggunakan Bitcoin dan Altcoin yang diatur oleh undang-undang terbaru.

“Saya tidak tertarik memiliki Bitcoin di sini. Kami tidak memiliki infrastruktur dan tidak memiliki pengetahuan untuk terlibat dalam percobaan ini. Tidak ada pula unit kejahatan siber yang akan memastikan keamanannya,” ungkap seorang pengusaha.

Rintangan teknis hanyalah salah satu pertanyaan yang diajukan oleh pergerakan Bitcoin. Analis asing telah merenungkan mengapa ekonomi yang sangat bermasalah ini harus mengadopsi mata uang baru dan bersifat volatil, dibandingkan unit stabil seperti dolar AS.

Pada awal minggu lalu, Menteri Ekonomi Herve Ndoba memaparkan kekurangan pendapatan pemerintah. Tanpa bantuan asing, beberapa kementerian mengalami pemotongan anggaran hingga 60%.

Terkait hal tersebut, Ousmene Jacques Mandeng mengatakan “CAR memiliki banyak masalah. Menambahkan mata uang lain seperti Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah tidak akan mengatasi masalah tersebut.”

Sumber: Rfi.fr

Listen Audio Button

Republik Afrika Tengah (CAR) mengikuti jejak El Salvador dalam mengadopsi Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah. Mata uang ini membutuhkan akses internet untuk dibeli, dijual, maupun digunakan. Sedangkan sembilan dari sepuluh masyarakat CAR tidak memiliki internet.

Pakar asing dan masyarakat CAR tengah berupaya untuk memahami alasan dari pengambilan langkah tersebut. Beberapa orang yang tengah mengantri di sebuah mesin ATM yang langka di Bangui terlihat kebingungan ketika mendengar kata ‘Bitcoin.’

“Apa itu?” tanya Sylvian yang menunggu gilirannya menggunakan mesin ATM yang beroperasi dengan generator.

“Saya tidak tahu apa itu cryptocurrency, saya bahkan tidak punya internet.” Kata Joelle yang merupakan seorang pedagang sayur.

Pada 28 April lalu, Presiden Faustin Archange Touadera mengumumkan bahwa anggota parlemen telah menyetujui RUU yang melegalkan penggunaan Bitcoin bersama dengan franc CFA. Seluruh transaksi menggunakan cryptocurrency termasuk pembayaran pajak tengah diotorisasi.

Baca juga Joe Rogan: Bitcoin akan Menjadi Mata Uang yang Layak

Juru bicara pemerintah Serge Ghislain Djorie mengatakan, “kami akan meluncurkan kampanye kesadaran dan segera memperkenalkan koneksi internet yang cukup untuk membeli cryptocurrency.”

Akan tetapi, muncul skeptisme yang besar di antara komunitas bisnis CAR. Padahal, secara teori Republik Afrika Tengah adalah yang paling ideal dalam menggunakan Bitcoin dan Altcoin yang diatur oleh undang-undang terbaru.

“Saya tidak tertarik memiliki Bitcoin di sini. Kami tidak memiliki infrastruktur dan tidak memiliki pengetahuan untuk terlibat dalam percobaan ini. Tidak ada pula unit kejahatan siber yang akan memastikan keamanannya,” ungkap seorang pengusaha.

Rintangan teknis hanyalah salah satu pertanyaan yang diajukan oleh pergerakan Bitcoin. Analis asing telah merenungkan mengapa ekonomi yang sangat bermasalah ini harus mengadopsi mata uang baru dan bersifat volatil, dibandingkan unit stabil seperti dolar AS.

Pada awal minggu lalu, Menteri Ekonomi Herve Ndoba memaparkan kekurangan pendapatan pemerintah. Tanpa bantuan asing, beberapa kementerian mengalami pemotongan anggaran hingga 60%.

Terkait hal tersebut, Ousmene Jacques Mandeng mengatakan “CAR memiliki banyak masalah. Menambahkan mata uang lain seperti Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah tidak akan mengatasi masalah tersebut.”

Sumber: Rfi.fr

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here