Mungkinkah Tether Menjadi Katalis dari Kiamat Kripto

Pasar cryptocurrency telah menunjukkan bahwa ia tidak kebal terhadap masalah ekonomi yang lebih luas. Koin berkapitalisasi tinggi termasuk Bitcoin dan Ethereum telah mengalami tren penurunan selama beberapa minggu terakhir. Ekonomi yang lebih luas dan tekanan inflasi jauh dari satu-satunya faktor yang mempengaruhi kripto saat ini. Runtuhnya Terra stablecoin (UST) minggu lalu mengirimkan gelombang kepanikan di pasar. Beberapa komentator bertanya-tanya apakah keruntuhan itu adalah momen ‘Lehman Brothers’ untuk kripto.

USDT merupakan merupakan stablecoin dengan kapitalisasi pasar terbesar ketiga. Total kapitalisasi pasarnya turun dari sekitar $83 miliar pada bulan April menjadi di bawah $75 pada bulan ini. Menurut Coinecko, penurunan ini terjadi karena serangkaian penebusan, yang ditebus dengan nilai satu dolar AS penuh.

Tether Operations Limited, perusahaan di belakang USDT berusaha meyakinkan investor yang khawatir tentang kemungkinan depegging dan bank run. Perusahaan menyatakan melalui blognya bahwa sejak 11 Mei, Tether berhasil memproses $7 miliar penukaran USDT untuk individu yang diverifikasi. Setiap permintaan penebusan yang diajukan telah ditebus secara penuh.

Tether telah menghadapi kritik karena kurangnya transparansi tentang apa sebenarnya cadangannya, dan berapa nilainya sebenarnya. Penukaran Tether baru-baru ini telah menjadi semacam tes tres. Meskipun beberapa fluktuasi selama puncak perdagangan minggu lalu, patokan 1:1 dolar tetap utuh.

- Advertisement -

Baca Juga : Tiga Cross-chain Bridge Teratas dalam Transaksi Cryptocurrency

Meskipun Tether mempertahankan nilainya untuk saat ini, pertanyaan tentang tingkat transparansi tetap ada. Tahun lalu perusahaan membayar denda $18.5 juta ke kantor jaksa agung New York untuk menyelesaikan penyelidikan yang sudah berjalan lama.

Kantor kejaksaan Letitia James mengatakan, “Bitfinex dan Tether secara sembrono dan tidak sah menutup kerugian finansial besar-besaran untuk menjaga skema mereka tetap berjalan dan melindungi keuntungan mereka. Sebelumnya, ia menambahkan klaim Tether bahwa mata uang virtualnya sepenuhnya didukung oleh dolar AS setiap saat adalah sebuah kebohongan.

Untuk saat ini, Tether tampaknya dapat mengatasi fluktuasi ini dan mempertahankan harga $1. Akan tetapi, jika Tether runtuh, kripto akan menghadapi kiamat yang belum pernah dilihatnya. Seperti biasa, lakukanlah trading dengan hati-hati dan waspadai risikonya.

Sumber : www.pcgamer.com

Pasar cryptocurrency telah menunjukkan bahwa ia tidak kebal terhadap masalah ekonomi yang lebih luas. Koin berkapitalisasi tinggi termasuk Bitcoin dan Ethereum telah mengalami tren penurunan selama beberapa minggu terakhir. Ekonomi yang lebih luas dan tekanan inflasi jauh dari satu-satunya faktor yang mempengaruhi kripto saat ini. Runtuhnya Terra stablecoin (UST) minggu lalu mengirimkan gelombang kepanikan di pasar. Beberapa komentator bertanya-tanya apakah keruntuhan itu adalah momen ‘Lehman Brothers’ untuk kripto.

USDT merupakan merupakan stablecoin dengan kapitalisasi pasar terbesar ketiga. Total kapitalisasi pasarnya turun dari sekitar $83 miliar pada bulan April menjadi di bawah $75 pada bulan ini. Menurut Coinecko, penurunan ini terjadi karena serangkaian penebusan, yang ditebus dengan nilai satu dolar AS penuh.

Tether Operations Limited, perusahaan di belakang USDT berusaha meyakinkan investor yang khawatir tentang kemungkinan depegging dan bank run. Perusahaan menyatakan melalui blognya bahwa sejak 11 Mei, Tether berhasil memproses $7 miliar penukaran USDT untuk individu yang diverifikasi. Setiap permintaan penebusan yang diajukan telah ditebus secara penuh.

Tether telah menghadapi kritik karena kurangnya transparansi tentang apa sebenarnya cadangannya, dan berapa nilainya sebenarnya. Penukaran Tether baru-baru ini telah menjadi semacam tes tres. Meskipun beberapa fluktuasi selama puncak perdagangan minggu lalu, patokan 1:1 dolar tetap utuh.

Baca Juga : Tiga Cross-chain Bridge Teratas dalam Transaksi Cryptocurrency

Meskipun Tether mempertahankan nilainya untuk saat ini, pertanyaan tentang tingkat transparansi tetap ada. Tahun lalu perusahaan membayar denda $18.5 juta ke kantor jaksa agung New York untuk menyelesaikan penyelidikan yang sudah berjalan lama.

Kantor kejaksaan Letitia James mengatakan, “Bitfinex dan Tether secara sembrono dan tidak sah menutup kerugian finansial besar-besaran untuk menjaga skema mereka tetap berjalan dan melindungi keuntungan mereka. Sebelumnya, ia menambahkan klaim Tether bahwa mata uang virtualnya sepenuhnya didukung oleh dolar AS setiap saat adalah sebuah kebohongan.

Untuk saat ini, Tether tampaknya dapat mengatasi fluktuasi ini dan mempertahankan harga $1. Akan tetapi, jika Tether runtuh, kripto akan menghadapi kiamat yang belum pernah dilihatnya. Seperti biasa, lakukanlah trading dengan hati-hati dan waspadai risikonya.

Sumber : www.pcgamer.com

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here