Meta, Microsoft, dan Perusahaan Teknologi Lainnya Menginginkan Open Metaverse?

Illust - Meta, Microsof, dan Perusahaan Teknologi Lainnya Menginginkan Open Metaverse
Sumber Asset: Gradient metaverse background created by freepik – www.freepik.com

Pada hari Selasa, 35 perusahaan teknologi, diantaranya Meta, Alibaba, Microsoft, dan Sony mengumumkan keanggotaan mereka pada sebuah organisasi yang menamakan dirinya Metaverse Standards Forum. Mereka telah menandatanganai perjanjian untuk bekerja menciptakan Metaverse yang terbuka dan dapat dioperasikan. 

Forum tersebut bertujuan untuk mendorong koordinasi dan kerja sama di antara ratusan perusahaan yang saat ini sedang memperebutkan potensi Metaverse. Mereka telah memutuskan untuk bersatu menciptakan metaverse terbuka dan inklusif. Namun, mereka yang berada di Web3 yang berdasarkan bahwa metaverse akan dibangun di atas jaringan blockchain kurang menerima hal tersebut. 

“Saya kira kita harus selalu merasa skeptis.” Kata Danny Greene, Manajer Umum MEEBITS SAO.  

Penciptaan metaverse yang terbuka tidak bisa dikendalikan hanya oleh satu perusahaan. Banyak yang membanyangkan bahwa metaverse sebagai lingkungan digital akan dibangun oleh masing-masing perusahaan yang berbeda. Dibutuhkan aset digital dari semua jenis perusahaan untuk lewat dengan bebas, interoperably, dan berpindah secara fleksibel agar dunia digital mudah dilalui. 

- Advertisement -

Baca Juga : Pendanaan Bullish Tetap Berlanjut meskipun dalam Keadaan Bear Market

Kritik terhadap big tech menyatakan bahwa perusahaan yang mengarungi Metaverse memliki visinya yang berbeda. Misalnya, Meta dan Facebook, mereka tentu memiliki visi yang berbeda tentang alasan kenapa memperjuangankan Metaverse. Jiho Zirlin, Co-Founder Sky Mavis, menyebutnya sebagai pertempuran untuk masa depan internet. 

Sementara itu, Greene menyatakan keyakinannya untuk bersikap hati-hati tentang bentuk metaverse yang akan diciptakan Meta dan perusahaan lainnya dalam perjanjian mereka untuk kerja sama industri. 

“Sejauh mereka tetap melakukan sesuai dengan perjanjian, terutama tentang interoperabilitas, saya akan senang dengan berita itu.” Kata Greene. 

Namun, lebih eksplisit dan sinisme disampaikan oleh Yat siu, Pendiri dan Ketua Eksekutif Animaco Brands, telah melabeli ambisi metaverse sebagai “Kolonialisme Digital”.

Siu percaya bahwa model bisnis perusahaan seperti Meta pada prinsipnya tidak sesuai dengan gagasan Metaverse terbuka yang terdesentralisasi. Terdesentralisasi berarti pengguna, data mereka, dan barang digital ada secara independen dari perusahaan manapun. 

“Metaverse yang terbuka akan memberikan akses tanpa izin, tetapi saya beranggapan bahwa perusahaan besar ini tidak akan mengizinkan ini.” Kata Siu.

Sebastian Borget, salah satu pendiri platform COO, menyatakan bahwa Dia tidak pernah dihubungi untuk membahas tentang Metaverse terbuka. Begitu juga Siu dan Greene.

Sumber : decrypt.co

Listen Audio Button

Illust - Meta, Microsof, dan Perusahaan Teknologi Lainnya Menginginkan Open Metaverse
Sumber Asset: Gradient metaverse background created by freepik – www.freepik.com

Pada hari Selasa, 35 perusahaan teknologi, diantaranya Meta, Alibaba, Microsoft, dan Sony mengumumkan keanggotaan mereka pada sebuah organisasi yang menamakan dirinya Metaverse Standards Forum. Mereka telah menandatanganai perjanjian untuk bekerja menciptakan Metaverse yang terbuka dan dapat dioperasikan. 

Forum tersebut bertujuan untuk mendorong koordinasi dan kerja sama di antara ratusan perusahaan yang saat ini sedang memperebutkan potensi Metaverse. Mereka telah memutuskan untuk bersatu menciptakan metaverse terbuka dan inklusif. Namun, mereka yang berada di Web3 yang berdasarkan bahwa metaverse akan dibangun di atas jaringan blockchain kurang menerima hal tersebut. 

“Saya kira kita harus selalu merasa skeptis.” Kata Danny Greene, Manajer Umum MEEBITS SAO.  

Penciptaan metaverse yang terbuka tidak bisa dikendalikan hanya oleh satu perusahaan. Banyak yang membanyangkan bahwa metaverse sebagai lingkungan digital akan dibangun oleh masing-masing perusahaan yang berbeda. Dibutuhkan aset digital dari semua jenis perusahaan untuk lewat dengan bebas, interoperably, dan berpindah secara fleksibel agar dunia digital mudah dilalui. 

Baca Juga : Pendanaan Bullish Tetap Berlanjut meskipun dalam Keadaan Bear Market

Kritik terhadap big tech menyatakan bahwa perusahaan yang mengarungi Metaverse memliki visinya yang berbeda. Misalnya, Meta dan Facebook, mereka tentu memiliki visi yang berbeda tentang alasan kenapa memperjuangankan Metaverse. Jiho Zirlin, Co-Founder Sky Mavis, menyebutnya sebagai pertempuran untuk masa depan internet. 

Sementara itu, Greene menyatakan keyakinannya untuk bersikap hati-hati tentang bentuk metaverse yang akan diciptakan Meta dan perusahaan lainnya dalam perjanjian mereka untuk kerja sama industri. 

“Sejauh mereka tetap melakukan sesuai dengan perjanjian, terutama tentang interoperabilitas, saya akan senang dengan berita itu.” Kata Greene. 

Namun, lebih eksplisit dan sinisme disampaikan oleh Yat siu, Pendiri dan Ketua Eksekutif Animaco Brands, telah melabeli ambisi metaverse sebagai “Kolonialisme Digital”.

Siu percaya bahwa model bisnis perusahaan seperti Meta pada prinsipnya tidak sesuai dengan gagasan Metaverse terbuka yang terdesentralisasi. Terdesentralisasi berarti pengguna, data mereka, dan barang digital ada secara independen dari perusahaan manapun. 

“Metaverse yang terbuka akan memberikan akses tanpa izin, tetapi saya beranggapan bahwa perusahaan besar ini tidak akan mengizinkan ini.” Kata Siu.

Sebastian Borget, salah satu pendiri platform COO, menyatakan bahwa Dia tidak pernah dihubungi untuk membahas tentang Metaverse terbuka. Begitu juga Siu dan Greene.

Sumber : decrypt.co

Listen Audio Button

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here