CEO Animoca Brands: NFT Adalah Cara Baru bagi Masyarakat untuk ‘Mempertahankan Budaya’

Pengguna baru NFT dianjurkan oleh salah satu pendiri Animoca Brands, Yat Siu, untuk memperluaskan pikirannya diluar monetisasi dan mempertimbangkan bagaimana NFT dapat membentuk kembali suatu budaya.

Baca juga Platform NFT Sorare Berinvestasi dalam Olahraga Wanita Senilai $4,3 miliar

Yat Siu, salah satu pendiri dan ketua pencipta NFT Animoca Brands, percaya bahwa NFT memungkinkan pendekatan baru yang dapat mendobrak pelestarian budaya di dunia virtual.

Siu mengklaim dalam sebuah wawancara dengan Cointelegraph bahwa, teknologi yang mendukung NFT adalah hal baru, namun dorongan untuk “melestarikan budaya” telah ada sepanjang sejarah manusia.

- Advertisement -

“Kami menyebut NFT sebagai repositori budaya karena mereka merangkum suatu momen dalam waktu,” jelasnya, “Apa itu seni?” Seni adalah gudang budaya” tambahnya.

Siu adalah pengusaha teknologi yang berbasis di Hong Kong yang sebelumnya bekerja untuk Atari dan memulai startup game Outblaze. Animoca Brands dibuat pada tahun 2014 dan telah menghasilkan judul NFT yang signifikan seperti The Sandbox, F1 Delta Time, dan MotoGP Ignition, serta berinvestasi di Dapper Labs, OpenSea, dan Axie Infinity.

CEO Animoca menyatakan bahwa budaya lebih dari sekedar nilai uang, namun budaya adalah sebuah karya seni. Siu menyebutkan putrinya dan band favoritnya, BTS, sebagai contoh, mengatakan bahwa dia tidak mencari tanda tangan dari grup K-Pop populer untuk menjualnya dengan cepat demi mencari keuntungan.

“Kebanyakan lukisan di dunia tidak terlalu berharga, tetapi kebanyakan orang yang membeli seni atau fotografi saat ini tidak berencana untuk segera menjualnya. Itu bukan pendekatan kami terhadap budaya.”

Kemudian dia menyarankan pendatang baru NFT untuk membenamkan diri dalam utilitas revolusioner yang diberikan oleh teknologi daripada mencari peluang keuntungan yang bersifat instan.

“Mulailah dengan membeli NFT pertama Anda tanpa tujuan untuk mencari keuntungan, tetapi untuk belajar dari NFT itu sendiri,” katanya.

Kepemilikan data dan hak data telah berubah karena NFT, menurut Siu, yang mengatakan: “Yang menarik dari kepemilikan yang dapat kami ciptakan ini adalah itu tidak datang dari semacam kelangkaan yang dapat Anda gali dari bumi.”

Siu menyebut data sebagai salah satu “sumber daya paling berharga” di dunia, mengutip upaya tak henti-hentinya dari perusahaan teknologi besar seperti Amazon dan Facebook untuk memanen setiap potongan data dari konsumen mereka untuk mempersonalisasi iklan yang mereka lihat di platform media sosial.

“Data telah berkembang menjadi sumber kekuatan yang mutlak,” lanjutnya.

Dengan premis nilai pasar sebesar $ 1 miliar, Animoca Brands berhasi mengumpulkan $ 88,88 juta saham pada bulan Mei.

Sumber: https://cointelegraph.com/news/nfts-offer-a-new-way-for-society-to-store-culture-says-animoca-brands-ceo

Pengguna baru NFT dianjurkan oleh salah satu pendiri Animoca Brands, Yat Siu, untuk memperluaskan pikirannya diluar monetisasi dan mempertimbangkan bagaimana NFT dapat membentuk kembali suatu budaya.

Baca juga Platform NFT Sorare Berinvestasi dalam Olahraga Wanita Senilai $4,3 miliar

Yat Siu, salah satu pendiri dan ketua pencipta NFT Animoca Brands, percaya bahwa NFT memungkinkan pendekatan baru yang dapat mendobrak pelestarian budaya di dunia virtual.

Siu mengklaim dalam sebuah wawancara dengan Cointelegraph bahwa, teknologi yang mendukung NFT adalah hal baru, namun dorongan untuk “melestarikan budaya” telah ada sepanjang sejarah manusia.

“Kami menyebut NFT sebagai repositori budaya karena mereka merangkum suatu momen dalam waktu,” jelasnya, “Apa itu seni?” Seni adalah gudang budaya” tambahnya.

Siu adalah pengusaha teknologi yang berbasis di Hong Kong yang sebelumnya bekerja untuk Atari dan memulai startup game Outblaze. Animoca Brands dibuat pada tahun 2014 dan telah menghasilkan judul NFT yang signifikan seperti The Sandbox, F1 Delta Time, dan MotoGP Ignition, serta berinvestasi di Dapper Labs, OpenSea, dan Axie Infinity.

CEO Animoca menyatakan bahwa budaya lebih dari sekedar nilai uang, namun budaya adalah sebuah karya seni. Siu menyebutkan putrinya dan band favoritnya, BTS, sebagai contoh, mengatakan bahwa dia tidak mencari tanda tangan dari grup K-Pop populer untuk menjualnya dengan cepat demi mencari keuntungan.

“Kebanyakan lukisan di dunia tidak terlalu berharga, tetapi kebanyakan orang yang membeli seni atau fotografi saat ini tidak berencana untuk segera menjualnya. Itu bukan pendekatan kami terhadap budaya.”

Kemudian dia menyarankan pendatang baru NFT untuk membenamkan diri dalam utilitas revolusioner yang diberikan oleh teknologi daripada mencari peluang keuntungan yang bersifat instan.

“Mulailah dengan membeli NFT pertama Anda tanpa tujuan untuk mencari keuntungan, tetapi untuk belajar dari NFT itu sendiri,” katanya.

Kepemilikan data dan hak data telah berubah karena NFT, menurut Siu, yang mengatakan: “Yang menarik dari kepemilikan yang dapat kami ciptakan ini adalah itu tidak datang dari semacam kelangkaan yang dapat Anda gali dari bumi.”

Siu menyebut data sebagai salah satu “sumber daya paling berharga” di dunia, mengutip upaya tak henti-hentinya dari perusahaan teknologi besar seperti Amazon dan Facebook untuk memanen setiap potongan data dari konsumen mereka untuk mempersonalisasi iklan yang mereka lihat di platform media sosial.

“Data telah berkembang menjadi sumber kekuatan yang mutlak,” lanjutnya.

Dengan premis nilai pasar sebesar $ 1 miliar, Animoca Brands berhasi mengumpulkan $ 88,88 juta saham pada bulan Mei.

Sumber: https://cointelegraph.com/news/nfts-offer-a-new-way-for-society-to-store-culture-says-animoca-brands-ceo

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here