CEO FTX Sam Bankman-Fried dalam Soal Pajak Orang Kaya dan Saluran Amal

Sam Bankman-Fried berpendapat kelompok orang kaya yang memiliki aset hingga miliaran dan triliunan harus dikenai pajak dengan presentase yang lebih tinggi. Sebagai seorang miliarder di usia 29 tahun, Bankman-Fried menyoroti bahwa sistem perpajakan di Amerika Serikat belum adil, sehingga menimbulkan kontra di antara kaum ekonomi rendah dan menengah.

Pemerintah Amerika Serikat mempertimbangkan untuk memberlakukan aturan pajak baru di awal tahun ini. Undang-undang ini menargetkan orang-orang terkaya di negara tersebut. Jika RUU itu diresmikan, hal tersebut menandakan bahwa para miliarder akan membayar pajak dengan persentase tambahan.

Sam Bankman-Fried, sebagai salah satu miliarder dan CEO pertukaran kripto FTX, mengatakan bahwa ia setuju dan mendukung pemerintah mengenai undang-undang tersebut. Walaupun ia mengakui tidak begitu memahami perpajangan dan sistem yang mengikutinya, Bankman-Fried berpendapat bahwa menetapkan presentase pajak tinggi kepada orang kaya terdengar masuk akal.

Baca juga Sebelum Sidang Kongres di Amerika Serikat, FTX Mengumumkan Proposal untuk Regulasi Kripto

- Advertisement -

“Saya mendukung gagasan tersebut karena mereka perlu membayar pajak secara adil,” kata Bankman-Fried mengacu pada ketidakseimbangan presentase pajak yang belaku saat ini.

Terlepas dari pandangan positifnya mengenai RUU tersebut, eksekutif FTX ini mencatat bahwa masih banyak lubang yang harus diperbaiki sebelum benar-benar dapat diterapkan. Ia menjelaskan bahwa pihak otoritas perlu menyoriti lebih lanjut kepada kalangan miliarder yang memiliki aset (real estat, saham, seni, dan lainnya) yang bernilai tinggi, tetapi tidak dikonversi ke dalam mata uang riil.

Pria berusia 29 tahun ini pula menyampaikan bahwa donasi amal tidak kalah pentinggnya mengenai perpajakan. Dalam sebuah wawancara dengan CNN, Bankman-Fried mengatakan bahwa ia akan mendistribusikan sebagian besar pendapatannya untuk tujuan donasi. Ia berencana akan menyalurkan amal tersebut untuk melawan kemiskinan, kesiapsiagaan pandemi, dan proyek terkait pemanasan global.

“Ini adalah kewajiban kita untuk memberi tanpa pamrih, uang bukan hanya untuk kepentingan pribadi atau reputasi. Sangat penting untuk membantu dunia,” kata Sam Bankman-Fried.

Selain eksekutif FTX tersebut, Changpeng Zhao selaku pendiri dan CEO Binance sempat menyampaikan bahwa ia berencana menyumbangkan 90% lebih pemasukannya untuk kaum yang membutuhkan. Di sisi lain, salah satu pendiri Ethereum Vitalik Buterin telah mengalokasikan 50 triliun token SHIB kepada India Covid Relief Fund bersama dengan 500 ETH senilai $1 miliar pada Mei lalu.

Buterin menguraikan masalah parah yang telah diciptakan COVID-19 untuk negara Asia dan seluruh dunia, terutama sektor kesehatan yang kewalahan menghadapi krisis ini. Ia berkata, “penting untuk memikirkan masa depan jangka panjang juga.”

Sumber:

Sam Bankman-Fried berpendapat kelompok orang kaya yang memiliki aset hingga miliaran dan triliunan harus dikenai pajak dengan presentase yang lebih tinggi. Sebagai seorang miliarder di usia 29 tahun, Bankman-Fried menyoroti bahwa sistem perpajakan di Amerika Serikat belum adil, sehingga menimbulkan kontra di antara kaum ekonomi rendah dan menengah.

Pemerintah Amerika Serikat mempertimbangkan untuk memberlakukan aturan pajak baru di awal tahun ini. Undang-undang ini menargetkan orang-orang terkaya di negara tersebut. Jika RUU itu diresmikan, hal tersebut menandakan bahwa para miliarder akan membayar pajak dengan persentase tambahan.

Sam Bankman-Fried, sebagai salah satu miliarder dan CEO pertukaran kripto FTX, mengatakan bahwa ia setuju dan mendukung pemerintah mengenai undang-undang tersebut. Walaupun ia mengakui tidak begitu memahami perpajangan dan sistem yang mengikutinya, Bankman-Fried berpendapat bahwa menetapkan presentase pajak tinggi kepada orang kaya terdengar masuk akal.

Baca juga Sebelum Sidang Kongres di Amerika Serikat, FTX Mengumumkan Proposal untuk Regulasi Kripto

“Saya mendukung gagasan tersebut karena mereka perlu membayar pajak secara adil,” kata Bankman-Fried mengacu pada ketidakseimbangan presentase pajak yang belaku saat ini.

Terlepas dari pandangan positifnya mengenai RUU tersebut, eksekutif FTX ini mencatat bahwa masih banyak lubang yang harus diperbaiki sebelum benar-benar dapat diterapkan. Ia menjelaskan bahwa pihak otoritas perlu menyoriti lebih lanjut kepada kalangan miliarder yang memiliki aset (real estat, saham, seni, dan lainnya) yang bernilai tinggi, tetapi tidak dikonversi ke dalam mata uang riil.

Pria berusia 29 tahun ini pula menyampaikan bahwa donasi amal tidak kalah pentinggnya mengenai perpajakan. Dalam sebuah wawancara dengan CNN, Bankman-Fried mengatakan bahwa ia akan mendistribusikan sebagian besar pendapatannya untuk tujuan donasi. Ia berencana akan menyalurkan amal tersebut untuk melawan kemiskinan, kesiapsiagaan pandemi, dan proyek terkait pemanasan global.

“Ini adalah kewajiban kita untuk memberi tanpa pamrih, uang bukan hanya untuk kepentingan pribadi atau reputasi. Sangat penting untuk membantu dunia,” kata Sam Bankman-Fried.

Selain eksekutif FTX tersebut, Changpeng Zhao selaku pendiri dan CEO Binance sempat menyampaikan bahwa ia berencana menyumbangkan 90% lebih pemasukannya untuk kaum yang membutuhkan. Di sisi lain, salah satu pendiri Ethereum Vitalik Buterin telah mengalokasikan 50 triliun token SHIB kepada India Covid Relief Fund bersama dengan 500 ETH senilai $1 miliar pada Mei lalu.

Buterin menguraikan masalah parah yang telah diciptakan COVID-19 untuk negara Asia dan seluruh dunia, terutama sektor kesehatan yang kewalahan menghadapi krisis ini. Ia berkata, “penting untuk memikirkan masa depan jangka panjang juga.”

Sumber:

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here