CEO JPMorgan: “Bitcoin akan Diatur, ‘Baik Anda Suka atau Tidak’.”

Pada wawancaranya dengan HBO baru-baru ini, Jamie Dimon, CEO dari JPMorgan menyampaikan alasan terkait penentangannya pada kelas aset. Sang kritikus cryptocurrency tersebut membahas topik yang sedang hangat diperbincangkan; perihal China melarang total aktivitas penambangan dan perdagangan bitcoin. Dimon percaya jika keputusan tersebut merupakan bukti bahwa Bitcoin merupakan aktivitas yang ilegal. Dengan demikian, orang-orang tidak bisa menganggapnya sebagai emas digital.

Baca juga Seorang Anggota Parlemen Tonga Ingin Melegalkan Bitcoin

“Saya selalu berasumsi itu akan dianggap ilegal di suatu tempat, seperti Cina, dan dengan demikian saya percaya itu sedikit bodoh untuk melakukannya jika Anda yakin itu akan gagal atau menyebabkan kesulitan.”

Dengan pendapatnya mengenai emas dan Bitcoin tersebut, Dimon menentang banyak pihak terkemuka yang mendukung cryptocurrency karena kesamaannya dengan logam kuning dan kelebihan lain yang dimiliki aset-aset tersebut. Beberapa di antaranya adalah Michael Saylor, Steve Wozniak, serta Chamath Palihapitiya, nama-nama yang berpendapat jika bitcoin merupakan aset yang lebih baik dibandingkan dengan emas, mengingat batas maksimum dan eksistensi digitalnya yang populer.

- Advertisement -

Dimon juga mendesak pengawas AS untuk mengatur Bitcoin karena ia yakin bagaimana penggunaan utama aset digital terkemuka merupakan aktivitas terlarang. “Ya… Jika orang menggunakannya untuk penghindaran pajak dan perdagangan seks dan ransomware, itu akan diatur, suka atau tidak suka. Jadi itu bukan pernyataan moral. Itu adalah pernyataan faktual,” jelasnya.

Dengan begitu, CEO JPMorgan tersebut telah tergabung dalam daftar nama pihak yang mengklaim jika transaksi Bitcoin adalah suatu hal yang ilegal. Meski demikian, kepercayaan ini tidak sepenuhnya akurat dengan adanya banyak laporan yang mengklaim jika uang tunai tetap menjadi metode pembayaran yang paling banyak digunakan oleh para pelaku kejahatan. Disamping itu, blockchain oleh Bitcoin adalah aset yang transparan karena adanya pencatatan untuk seluruh transaksi di dalamnya.

Terlepas dari penolakan dari sang CEO terhadap crypto, JPMorgan Chase & CO., baru-baru ini mulai menyediakan layanan untuk aset digital kepada para kliennya. Pada akhir Juli lalu, Direktur Manajemen Aset dan Kekayaan, Mary Callahan Erdoes, mencatat jika sebagian besar pengguna bank melihat Bitcoin sebagai sebuah kelas aset. Mereka juga menunjukkan adanya peningkatan pada permintaan untuk peluang tentang kripto, maka dari itu bank akan berusaha untuk bekerja kearah tersebut.

“Banyak dari klien kami berkata, ‘Itu adalah kelas aset, dan saya ingin berinvestasi,’ dan tugas kami adalah membantu mereka menempatkan uang mereka di tempat yang ingin mereka investasikan,” ungkap Mary.

Sumber: https://cryptopotato.com/jpmorgan-ceo-bitcoin-is-going-to-be-regulated-whether-you-like-it-or-not/

Pada wawancaranya dengan HBO baru-baru ini, Jamie Dimon, CEO dari JPMorgan menyampaikan alasan terkait penentangannya pada kelas aset. Sang kritikus cryptocurrency tersebut membahas topik yang sedang hangat diperbincangkan; perihal China melarang total aktivitas penambangan dan perdagangan bitcoin. Dimon percaya jika keputusan tersebut merupakan bukti bahwa Bitcoin merupakan aktivitas yang ilegal. Dengan demikian, orang-orang tidak bisa menganggapnya sebagai emas digital.

Baca juga Seorang Anggota Parlemen Tonga Ingin Melegalkan Bitcoin

“Saya selalu berasumsi itu akan dianggap ilegal di suatu tempat, seperti Cina, dan dengan demikian saya percaya itu sedikit bodoh untuk melakukannya jika Anda yakin itu akan gagal atau menyebabkan kesulitan.”

Dengan pendapatnya mengenai emas dan Bitcoin tersebut, Dimon menentang banyak pihak terkemuka yang mendukung cryptocurrency karena kesamaannya dengan logam kuning dan kelebihan lain yang dimiliki aset-aset tersebut. Beberapa di antaranya adalah Michael Saylor, Steve Wozniak, serta Chamath Palihapitiya, nama-nama yang berpendapat jika bitcoin merupakan aset yang lebih baik dibandingkan dengan emas, mengingat batas maksimum dan eksistensi digitalnya yang populer.

Dimon juga mendesak pengawas AS untuk mengatur Bitcoin karena ia yakin bagaimana penggunaan utama aset digital terkemuka merupakan aktivitas terlarang. “Ya… Jika orang menggunakannya untuk penghindaran pajak dan perdagangan seks dan ransomware, itu akan diatur, suka atau tidak suka. Jadi itu bukan pernyataan moral. Itu adalah pernyataan faktual,” jelasnya.

Dengan begitu, CEO JPMorgan tersebut telah tergabung dalam daftar nama pihak yang mengklaim jika transaksi Bitcoin adalah suatu hal yang ilegal. Meski demikian, kepercayaan ini tidak sepenuhnya akurat dengan adanya banyak laporan yang mengklaim jika uang tunai tetap menjadi metode pembayaran yang paling banyak digunakan oleh para pelaku kejahatan. Disamping itu, blockchain oleh Bitcoin adalah aset yang transparan karena adanya pencatatan untuk seluruh transaksi di dalamnya.

Terlepas dari penolakan dari sang CEO terhadap crypto, JPMorgan Chase & CO., baru-baru ini mulai menyediakan layanan untuk aset digital kepada para kliennya. Pada akhir Juli lalu, Direktur Manajemen Aset dan Kekayaan, Mary Callahan Erdoes, mencatat jika sebagian besar pengguna bank melihat Bitcoin sebagai sebuah kelas aset. Mereka juga menunjukkan adanya peningkatan pada permintaan untuk peluang tentang kripto, maka dari itu bank akan berusaha untuk bekerja kearah tersebut.

“Banyak dari klien kami berkata, ‘Itu adalah kelas aset, dan saya ingin berinvestasi,’ dan tugas kami adalah membantu mereka menempatkan uang mereka di tempat yang ingin mereka investasikan,” ungkap Mary.

Sumber: https://cryptopotato.com/jpmorgan-ceo-bitcoin-is-going-to-be-regulated-whether-you-like-it-or-not/

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here