‘Doctors Without Borders’ Saat Ini Menggunakan Teknologi Blockchain untuk Menyimpan Rekam Medis

Teknologi blockchain untuk menyimpan rekam medis. Pada konferensi pers yang dilakukan pada 11 November, perusahaan keamanan dokumen berbasis blockchain, Transcrypts memberikan pengumuman terkait kemitraannnya dengan Doctor Without Borders atau DWB. Kemitraan ini dimulai pada 14 Oktober 2021. Dalam kerja samanya, mereka telah mampu untuk mengunggah sebanyak 6.500 catatan rekam medis imunisasi ke dalam teknologi blockchain, dengan target mencapai 76.000 pada tahun 2022.

Meskipun sebagian besar imunisasi yang tercatat adalah vaksin Covid-19, tetapi perusahaan menyatakan bahwa pada akhirnya tujuan dari proyek ini adalah untuk menyimpan semua catatan medis pasien melalui teknologi blockchain. Dengan begitu, mereka akan mendapatkan akses catatan medis tersebut melalui telepon genggam masing-masing pasien.

Perusahaan rintisan (startup) yang berbasis di California ini didirikan pada tahun 2020 oleh Zain Zaidi yang saat itu masih menjadi mahasiswa teknik elektro di San Jose State University. Beberapa klien yang terlibat dalam proyek ini adalah Paychex, ADP, Zoom, Spirit Airlines, dan Oracle.

Pada mulanya, Transcrypts dimulai sebagai platform untuk memerangi penipuan resume yang dipasarkan kepada sumber daya manusia yang profesional. Sedangkan saat ini, platform ini bertujuan sebagai layanan dokumentasi secara penuh.

- Advertisement -

Baca juga Menurut Studi, 58% Pengembangan Video Game Menggunakan Teknologi Blockchain

Berkaitan dengan teknologi ini, Transcrypts telah menemukan bahwa HIPAA dan undang-undang kepatuhan lainnya pada dasarnya melarang blockchain sebagai metode penyimpanan yang dapat diterima untuk catatan medis di Amerika Serikat.

Zaidi mengatakan bahwa berkaitan dengan aksesibilitas catatan medis pasien di negara berkembang, blockchain dapat memberikan bantuan yang signifikan dalam mencegah banyaknya kematian yang dapat dikatakan ‘sia-sia’.

Berdasarkan data, di India terdapat lebih dari 700.000 orang yang meninggal setiap tahun karena kurangnya akses terhadap catatan medis pasien. Mayoritas kematian ini dapat dicegah ketika dokter memiliki akses ke catatan perawatan kesehatan pasien yang komprehensif.

Dengan kemitraan ini, Doctors Without Borders dan Transcrypts berharap untuk dapat membangun masa depan di mana angka kematian tersebut akibat minimnya akses dapat berkurang.

Proyek ini bukan pertama kalinya catatan vaksinasi Covid-19 disimpan dengan teknologi blockchain. Menurut laporan Cointelegraph bahwa terdapat peluncuran program VeChain di sebuah rumah sakit besar di Siprus.

Sumber:

https://cointelegraph.com/news/doctors-without-borders-is-now-using-blockchain-tech-for-medical-record-storage

Teknologi blockchain untuk menyimpan rekam medis. Pada konferensi pers yang dilakukan pada 11 November, perusahaan keamanan dokumen berbasis blockchain, Transcrypts memberikan pengumuman terkait kemitraannnya dengan Doctor Without Borders atau DWB. Kemitraan ini dimulai pada 14 Oktober 2021. Dalam kerja samanya, mereka telah mampu untuk mengunggah sebanyak 6.500 catatan rekam medis imunisasi ke dalam teknologi blockchain, dengan target mencapai 76.000 pada tahun 2022.

Meskipun sebagian besar imunisasi yang tercatat adalah vaksin Covid-19, tetapi perusahaan menyatakan bahwa pada akhirnya tujuan dari proyek ini adalah untuk menyimpan semua catatan medis pasien melalui teknologi blockchain. Dengan begitu, mereka akan mendapatkan akses catatan medis tersebut melalui telepon genggam masing-masing pasien.

Perusahaan rintisan (startup) yang berbasis di California ini didirikan pada tahun 2020 oleh Zain Zaidi yang saat itu masih menjadi mahasiswa teknik elektro di San Jose State University. Beberapa klien yang terlibat dalam proyek ini adalah Paychex, ADP, Zoom, Spirit Airlines, dan Oracle.

Pada mulanya, Transcrypts dimulai sebagai platform untuk memerangi penipuan resume yang dipasarkan kepada sumber daya manusia yang profesional. Sedangkan saat ini, platform ini bertujuan sebagai layanan dokumentasi secara penuh.

Baca juga Menurut Studi, 58% Pengembangan Video Game Menggunakan Teknologi Blockchain

Berkaitan dengan teknologi ini, Transcrypts telah menemukan bahwa HIPAA dan undang-undang kepatuhan lainnya pada dasarnya melarang blockchain sebagai metode penyimpanan yang dapat diterima untuk catatan medis di Amerika Serikat.

Zaidi mengatakan bahwa berkaitan dengan aksesibilitas catatan medis pasien di negara berkembang, blockchain dapat memberikan bantuan yang signifikan dalam mencegah banyaknya kematian yang dapat dikatakan ‘sia-sia’.

Berdasarkan data, di India terdapat lebih dari 700.000 orang yang meninggal setiap tahun karena kurangnya akses terhadap catatan medis pasien. Mayoritas kematian ini dapat dicegah ketika dokter memiliki akses ke catatan perawatan kesehatan pasien yang komprehensif.

Dengan kemitraan ini, Doctors Without Borders dan Transcrypts berharap untuk dapat membangun masa depan di mana angka kematian tersebut akibat minimnya akses dapat berkurang.

Proyek ini bukan pertama kalinya catatan vaksinasi Covid-19 disimpan dengan teknologi blockchain. Menurut laporan Cointelegraph bahwa terdapat peluncuran program VeChain di sebuah rumah sakit besar di Siprus.

Sumber:

https://cointelegraph.com/news/doctors-without-borders-is-now-using-blockchain-tech-for-medical-record-storage

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here