Filipina akan Memulai Proyek Percontohan untuk Wholesale CBDC

Listen Audio Button

Filipina akan meluncurkan proyek percontohan Wholesale CBDC, yang bertajuk Proyek CBDCPh. Laporan ini diungkapkan oleh Gubernur Bangko Sentral ng Pilipinas, Benjamin E. Diokno. Diokno membahas proyek tersebut dalam diskusi meja bundar pada pertemuan tahunan G-24/Alliance for Financial Inclusion Policymakers ke-14 di Washington, DC, yang bersamaan dengan pertemuan musim semi IMF.

Diokno mengatakan, proyek ini akan dipimpin oleh tim domestik lintas sektoral, penasihat eksternal dari lembaga penetapan standar internasional, dan lembaga multilateral. Pemimpin yang terpilih akan membangun pelatihan dan pertukaran informasi yang ada, mengenai pembuatan dan implementasi CBDC di seluruh dunia. Diokno menegaskan bahwa proyek ini penting dalam membangun roadmap jangka menengah dan panjang BSP, untuk program Wholesale CBDC yang akan mendukung sistem pembayaran Filipina.

Dalam hal CBDC ritel, tidak banyak manfaat yang bisa didapat di Filipina, mengingat sejauh mana reformasi pembayaran ritel dan inklusi keuangan telah dilakukan. Pada akhir tahun 2020, terdapat 20,1% volume pembayaran bulanan dalam ritel digital, naik dari 10% pada 2018 dan 1% pada 2013.

- Advertisement -

Baca juga Brasil Merencanakan Program Percontohan CBDC untuk Kuartal Kedua 2022

Bank sentral bermaksud menggunakan wholesale CBDC untuk memfasilitasi pembayaran lintas batas, transaksi sekuritas ekuitas, dan likuiditas intraday (ILF). Namun, ILF tidak sepenuhnya otomatis saat ini. Financial Action Task Force baru-baru ini menyimpulkan bahwa persyaratan pendanaan anti-pencucian uang (AML) dan standar anti-terorisme Filipina kurang memadai.

Tahun lalu, negara tersebut mengambil langkah pertama menuju pembentukan CBDC, dengan publikasi studi eksplorasi. Filipina juga menandatangani nota kesepahaman tentang pertukaran informasi dan pengembangan kapasitas dengan Otoritas Moneter Singapura dan Bank Sentral Mauritius di bidang mata uang digital, fintech dan perbankan syariah. Negara tersebut juga berpartisipasi dalam studi Bank for International Settlements (BIS) tentang peran CBDC dalam inklusi keuangan.

Menurut situs webnya, G-24 sekarang memiliki 28 anggota. Anggota tersebut termasuk China yang memiliki undangan khusus. Saat ini, mereka tengah mengoordinasikan posisi negara-negara berkembang dalam masalah moneter dan pembangunan.

Sumber: Cointelegraph

Listen Audio Button

Filipina akan meluncurkan proyek percontohan Wholesale CBDC, yang bertajuk Proyek CBDCPh. Laporan ini diungkapkan oleh Gubernur Bangko Sentral ng Pilipinas, Benjamin E. Diokno. Diokno membahas proyek tersebut dalam diskusi meja bundar pada pertemuan tahunan G-24/Alliance for Financial Inclusion Policymakers ke-14 di Washington, DC, yang bersamaan dengan pertemuan musim semi IMF.

Diokno mengatakan, proyek ini akan dipimpin oleh tim domestik lintas sektoral, penasihat eksternal dari lembaga penetapan standar internasional, dan lembaga multilateral. Pemimpin yang terpilih akan membangun pelatihan dan pertukaran informasi yang ada, mengenai pembuatan dan implementasi CBDC di seluruh dunia. Diokno menegaskan bahwa proyek ini penting dalam membangun roadmap jangka menengah dan panjang BSP, untuk program Wholesale CBDC yang akan mendukung sistem pembayaran Filipina.

Dalam hal CBDC ritel, tidak banyak manfaat yang bisa didapat di Filipina, mengingat sejauh mana reformasi pembayaran ritel dan inklusi keuangan telah dilakukan. Pada akhir tahun 2020, terdapat 20,1% volume pembayaran bulanan dalam ritel digital, naik dari 10% pada 2018 dan 1% pada 2013.

Baca juga Brasil Merencanakan Program Percontohan CBDC untuk Kuartal Kedua 2022

Bank sentral bermaksud menggunakan wholesale CBDC untuk memfasilitasi pembayaran lintas batas, transaksi sekuritas ekuitas, dan likuiditas intraday (ILF). Namun, ILF tidak sepenuhnya otomatis saat ini. Financial Action Task Force baru-baru ini menyimpulkan bahwa persyaratan pendanaan anti-pencucian uang (AML) dan standar anti-terorisme Filipina kurang memadai.

Tahun lalu, negara tersebut mengambil langkah pertama menuju pembentukan CBDC, dengan publikasi studi eksplorasi. Filipina juga menandatangani nota kesepahaman tentang pertukaran informasi dan pengembangan kapasitas dengan Otoritas Moneter Singapura dan Bank Sentral Mauritius di bidang mata uang digital, fintech dan perbankan syariah. Negara tersebut juga berpartisipasi dalam studi Bank for International Settlements (BIS) tentang peran CBDC dalam inklusi keuangan.

Menurut situs webnya, G-24 sekarang memiliki 28 anggota. Anggota tersebut termasuk China yang memiliki undangan khusus. Saat ini, mereka tengah mengoordinasikan posisi negara-negara berkembang dalam masalah moneter dan pembangunan.

Sumber: Cointelegraph

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here