Hipotesis Terkait Kenaikan Bitcoin dalam Rubel terhadap Dolar AS

Pada awal minggu lalu, Bitcoin (BTC) mencapai titik all-time-high (ATH) yang diukur dalam rubel (RUB). Saat itu, kurs mata uang rubel terhadap dolar adalah $1:114 RUB. Dengan adanya devaluasi sebelumnya, beberapa pihak mungkin berharap bahwa aset yang dihargai dalam RUB akan mencapai titik ATH jika tren terus berlanjut.

Namun, rubel yang kehilangan 37% dari nilai dolar tidak akan menjelaskan mengapa Bitcoin mengalami kenaikan sebesar 55% dalam RUB. Kelebihan keuntungan tersebut menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor permintaan lain yang berperan. Selain itu, harga BTC dalam USD masih lebih dari 50% di atas harga ATH.

Berkaitan dengan kondisi tersebut, terdapat dua hipotesis yang muncul di kalangan analis. Pertama, orang Rusia yang sangat kaya memulai perang menggunakan Bitcoin untuk menghindari sanksi karena mereka membutuhkan dana untuk terus berperang. Kedua, orang biasa di Rusia dan Ukraina menumpuk Bitcoin untuk menghindari sanksi karena mereka membutuhkan uang untuk bertahan hidup.

Di antara keduanya, hipotesis kedua lebih memungkinkan karena menunjukkan bahwa massa dapat menumpuk ke dalam Bitcoin untuk melestarikan kekayaan saat negara terlibat konflik. Sementara Bitcoin transparent ledger tidak akan membantu pemerintah Valdimir Putin dalam menghindari sanksi.

- Advertisement -

Baca juga Mengenal Bitcoin Cash dan Membedakannya dengan Bitcoin

Berbeda dengan rubel, hryvnia Ukraina (UAH) tidak kehilangan terlalu banyak nilai dalam dolar AS. Namun, menurut data yang dipaparkan Kaiko, Bitcoin diperdagangkan dengan premi sebesar 6% terhadap USD di pasar UAH Binance. Hal itu terjadi pasca invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari lalu yang menunjukkan lonjakan permintaan. Binance juga menunjukkan bahwa volume BTC/RUB melonjak lebih dari 240% di atas rara-rata trailing 30 hari.

Menggali sedikit lebih dalam dengan metrik Glassnode ‘Wallet Cohort Trend Accumulation Score.’ Metrik tersebut merinci ukuran dompet yang mengumpulkan Bitcoin.  Menurut grafik terbaru, holder yang lebih kecil jauh lebih agresif dalam mengumpulkan Bitcoin. Data tersebut mendukung hipotesis bahwa Bitcoin tidak digunakan untuk menghindari sanksi. Sebaliknya, hal itu digunakan oleh orang biasa untuk melestarikan kekayaan saat perang tengah berkecamuk.

Di sisi lain, terdapat pernyataan bahwa sejauh ini volume Rusia relatif kecil yang menunjukkan aksi harga lebih. Hal ini karena investor memposisikan diri untuk kenaikan permintaan yang diharapkan dari Rusia.

Sumber: https://www.coindesk.com/markets/2022/03/06/why-did-bitcoin-surge-so-much-against-the-ruble/

Pada awal minggu lalu, Bitcoin (BTC) mencapai titik all-time-high (ATH) yang diukur dalam rubel (RUB). Saat itu, kurs mata uang rubel terhadap dolar adalah $1:114 RUB. Dengan adanya devaluasi sebelumnya, beberapa pihak mungkin berharap bahwa aset yang dihargai dalam RUB akan mencapai titik ATH jika tren terus berlanjut.

Namun, rubel yang kehilangan 37% dari nilai dolar tidak akan menjelaskan mengapa Bitcoin mengalami kenaikan sebesar 55% dalam RUB. Kelebihan keuntungan tersebut menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor permintaan lain yang berperan. Selain itu, harga BTC dalam USD masih lebih dari 50% di atas harga ATH.

Berkaitan dengan kondisi tersebut, terdapat dua hipotesis yang muncul di kalangan analis. Pertama, orang Rusia yang sangat kaya memulai perang menggunakan Bitcoin untuk menghindari sanksi karena mereka membutuhkan dana untuk terus berperang. Kedua, orang biasa di Rusia dan Ukraina menumpuk Bitcoin untuk menghindari sanksi karena mereka membutuhkan uang untuk bertahan hidup.

Di antara keduanya, hipotesis kedua lebih memungkinkan karena menunjukkan bahwa massa dapat menumpuk ke dalam Bitcoin untuk melestarikan kekayaan saat negara terlibat konflik. Sementara Bitcoin transparent ledger tidak akan membantu pemerintah Valdimir Putin dalam menghindari sanksi.

Baca juga Mengenal Bitcoin Cash dan Membedakannya dengan Bitcoin

Berbeda dengan rubel, hryvnia Ukraina (UAH) tidak kehilangan terlalu banyak nilai dalam dolar AS. Namun, menurut data yang dipaparkan Kaiko, Bitcoin diperdagangkan dengan premi sebesar 6% terhadap USD di pasar UAH Binance. Hal itu terjadi pasca invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari lalu yang menunjukkan lonjakan permintaan. Binance juga menunjukkan bahwa volume BTC/RUB melonjak lebih dari 240% di atas rara-rata trailing 30 hari.

Menggali sedikit lebih dalam dengan metrik Glassnode ‘Wallet Cohort Trend Accumulation Score.’ Metrik tersebut merinci ukuran dompet yang mengumpulkan Bitcoin.  Menurut grafik terbaru, holder yang lebih kecil jauh lebih agresif dalam mengumpulkan Bitcoin. Data tersebut mendukung hipotesis bahwa Bitcoin tidak digunakan untuk menghindari sanksi. Sebaliknya, hal itu digunakan oleh orang biasa untuk melestarikan kekayaan saat perang tengah berkecamuk.

Di sisi lain, terdapat pernyataan bahwa sejauh ini volume Rusia relatif kecil yang menunjukkan aksi harga lebih. Hal ini karena investor memposisikan diri untuk kenaikan permintaan yang diharapkan dari Rusia.

Sumber: https://www.coindesk.com/markets/2022/03/06/why-did-bitcoin-surge-so-much-against-the-ruble/

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here