IMF Gencarkan Regulasi Kripto yang Lebih Ketat di Afrika karena Industri yang Semakin Berkembang

International Moneter Fund (IMF) menyerukan peningkatan regulasi pasar kripto Afrika, salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Di antara alasan mengapa negara-negara di kawasan ini harus menerapkan regulasi, dana moneter mengutip jatuhnya FTX dan efeknya pada harga aset kripto yang “mendorong seruan baru untuk perlindungan konsumen dan regulasi industri kripto yang lebih besar.”

illust IMF Gencarkan Regulasi Kripto yang Lebih Ketat di Afrika karena Industri yang Semakin Berkembang
Sumber Asset <a href= httpswwwfreepikcomfree vectorbusiness people studying list rules reading guidance making checklist 11235251htmquery=Regulationposition=0from view=searchtrack=sph> Business people studying list of rules created by pchvector wwwfreepikcom<a>

Selain itu, penulis berpendapat bahwa “risiko dari aset kripto sudah terbukti” dan “sudah waktunya untuk meregulasikannya ” untuk menemukan keseimbangan antara meminimalkan risiko dan memaksimalkan inovasi.

Berdasarkan Outlook Ekonomi Regional Oktober 2022 untuk sub-Sahara Afrika, artikel tersebut menyatakan bahwa “risikonya jauh lebih besar jika kripto diadopsi sebagai alat pembayaran yang sah.” Sebab, hal tersebut menimbulkan ancaman terhadap keuangan publik jika pemerintah menerima kripto sebagai alat pembayaran.

Publikasi itu juga menuliskan bahwa, “Pembuat kebijakan juga khawatir aset kripto dapat digunakan untuk mentransfer dana secara ilegal ke luar wilayah dan menghindari regulasi lokal untuk mencegah arus keluar modal. Penggunaan kripto yang meluas juga dapat merusak efektivitas kebijakan moneter, menciptakan risiko stabilitas keuangan dan ekonomi makro.”

- Advertisement -

Baca Juga : Cryptocurrency Adalah Properti Virtual Yang Dilindungi oleh Hukum Menurut Aturan Pengadilan Tiongkok

Menurut data IMF, 25% negara di sub-Sahara Afrika telah meregulasikan kripto secara formal, sementara dua pertiganya telah menerapkan beberapa batasan. Di sisi lain, Kamerun, Ethiopia, Lesotho, Sierra Leone, Tanzania, dan Republik Kongo telah melarang aset kripto, yang mewakili 20% negara Afrika sub-Sahara. Kenya, Nigeria, dan Afrika Selatan memiliki jumlah pengguna tertinggi di wilayah tersebut.

Antara Juli 2020 dan Juni 2021, pasar kripto Afrika meningkat nilainya lebih dari 1.200%, menurut data dari perusahaan analitik Chainalysis, dengan adopsi tinggi di Kenya, Afrika Selatan, Nigeria, dan Tanzania.

Seperti dilansir Cointelegraph, Ghana sedang menguji mata uang digital bank sentral (CBDC). Menurut Kwame Oppong, seorang eksekutif di Bank of Ghana, inisiatif negara tersebut bertujuan untuk mendorong inklusi keuangan.

Ghana memiliki potensi untuk mencapai tingkat adopsi kripto yang serupa dengan Kenya dan Nigeria, negara-negara yang menempati peringkat ke-11 dan ke-19 dalam Indeks Adopsi kripto Global Chainalysis.

Sumber :cointelegraph.com

International Moneter Fund (IMF) menyerukan peningkatan regulasi pasar kripto Afrika, salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Di antara alasan mengapa negara-negara di kawasan ini harus menerapkan regulasi, dana moneter mengutip jatuhnya FTX dan efeknya pada harga aset kripto yang “mendorong seruan baru untuk perlindungan konsumen dan regulasi industri kripto yang lebih besar.”

illust IMF Gencarkan Regulasi Kripto yang Lebih Ketat di Afrika karena Industri yang Semakin Berkembang
Sumber Asset <a href= httpswwwfreepikcomfree vectorbusiness people studying list rules reading guidance making checklist 11235251htmquery=Regulationposition=0from view=searchtrack=sph> Business people studying list of rules created by pchvector wwwfreepikcom<a>

Selain itu, penulis berpendapat bahwa “risiko dari aset kripto sudah terbukti” dan “sudah waktunya untuk meregulasikannya ” untuk menemukan keseimbangan antara meminimalkan risiko dan memaksimalkan inovasi.

Berdasarkan Outlook Ekonomi Regional Oktober 2022 untuk sub-Sahara Afrika, artikel tersebut menyatakan bahwa “risikonya jauh lebih besar jika kripto diadopsi sebagai alat pembayaran yang sah.” Sebab, hal tersebut menimbulkan ancaman terhadap keuangan publik jika pemerintah menerima kripto sebagai alat pembayaran.

Publikasi itu juga menuliskan bahwa, “Pembuat kebijakan juga khawatir aset kripto dapat digunakan untuk mentransfer dana secara ilegal ke luar wilayah dan menghindari regulasi lokal untuk mencegah arus keluar modal. Penggunaan kripto yang meluas juga dapat merusak efektivitas kebijakan moneter, menciptakan risiko stabilitas keuangan dan ekonomi makro.”

Baca Juga : Cryptocurrency Adalah Properti Virtual Yang Dilindungi oleh Hukum Menurut Aturan Pengadilan Tiongkok

Menurut data IMF, 25% negara di sub-Sahara Afrika telah meregulasikan kripto secara formal, sementara dua pertiganya telah menerapkan beberapa batasan. Di sisi lain, Kamerun, Ethiopia, Lesotho, Sierra Leone, Tanzania, dan Republik Kongo telah melarang aset kripto, yang mewakili 20% negara Afrika sub-Sahara. Kenya, Nigeria, dan Afrika Selatan memiliki jumlah pengguna tertinggi di wilayah tersebut.

Antara Juli 2020 dan Juni 2021, pasar kripto Afrika meningkat nilainya lebih dari 1.200%, menurut data dari perusahaan analitik Chainalysis, dengan adopsi tinggi di Kenya, Afrika Selatan, Nigeria, dan Tanzania.

Seperti dilansir Cointelegraph, Ghana sedang menguji mata uang digital bank sentral (CBDC). Menurut Kwame Oppong, seorang eksekutif di Bank of Ghana, inisiatif negara tersebut bertujuan untuk mendorong inklusi keuangan.

Ghana memiliki potensi untuk mencapai tingkat adopsi kripto yang serupa dengan Kenya dan Nigeria, negara-negara yang menempati peringkat ke-11 dan ke-19 dalam Indeks Adopsi kripto Global Chainalysis.

Sumber :cointelegraph.com

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here