Laporan FinCEN Terkait Serangan Ransomware Tahun 2021

Laporan FinCEN – Pada Jumat lalu, pengawas kejahatan keuangan pemerintah Amerika Serikat melaporkan pembayaran terkait dengan serangan ransomware di tahun 2021. Jumlah ransomware di tahun ini mengalami lonjakan yang cukup signifikan dengan angka melebihi total ransomeware pada tahun 2020.

Menurut data yang dilaporkan oleh lembaga keuangan, terdapat lebih dari $590 juta pembayaran terkait dengan serangan ransomware termasuk cryptocurrency ke Jaringan Penegakan Kejahatan Keuangan (FinCEN). Data tahun 2021 tersebut melampaui total data di tahun 2020 yang hanya menyentuh angka $416 juta.

Baca juga Menteri Keuangan Zimbabwe Menyatakan bahwa Cryptocurrency Tidak Dapat Diabaikan

Angka tersebut menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi.  Melalui siaran pers yang dilakukan oleh Departemen Keuangan, mereka menyatakan bahwa penyerang semakin meminta pembayaran dalam cryptocurrency anonymity-enhanced seperti monero.

- Advertisement -

Selain itu, penyerang juga menggunakan mixer, pertukaran terdesentralisasi, alamat dompet baru, dan melompat antar rantai sebagai upaya untuk menghindari petugas penegak hukum. Hal itu diungkapkan oleh SAR Kripto melalu pers rilis.

Berkaitan dengan hal tersebut, Todd Conklin selaku salah satu pejabat Departemen Keuangan FinCEN menghitung jumlah yang dilaporkan melalui Suspicious Activity Reports (SARs) mencapai angka $5.3 miliar dalam transaksi yang mungkin memiliki potensi terkait dengan pembayaran ransomware.

Pengumuman tersebut disebut sebagai bagian dari dorongan yang lebih luas dari Departemen Keuangan terhadap ransomeware. Ransomeware— penyerang mengenkripsi komputer atau jaringan korban hingga korban melakukan transaksi uang tebusan untuk kunci deskripsi dan telah digunakan secara masif pada tahun 2021.

Terkait dengan hal tersebut, Departemen Keuangan menambahkan platform kripto over-the-counter ke dalam black list global untuk pertama kalinya dalam perjuangan berkelanjutannya untuk meredam serangan ransomeware dan pembayaran.

Selain temuan FinCEN, Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) Departemen Keuangan menerbitkan brosur yang berisi panduan kepatuhan sanksi untuk bisnis kripto. Di dalamnya dijelaskan secara rinci terkait persyaratan untuk orang dan entitas AS yang melakukan kontak dengan mata uang kripto yang telah diblokir.

Dokumen tersebut juga mencakup praktik dan kontrol terbaik yang direkomendasikan dan dapat diterapkan oleh bisnis industri kripto untuk tetap mematuhi hukum federal.

Sumber:

https://www.coindesk.com/policy/2021/10/15/ransomware-payments-in-2021-already-dwarfs-last-years-total-fincen-reports/

Laporan FinCEN – Pada Jumat lalu, pengawas kejahatan keuangan pemerintah Amerika Serikat melaporkan pembayaran terkait dengan serangan ransomware di tahun 2021. Jumlah ransomware di tahun ini mengalami lonjakan yang cukup signifikan dengan angka melebihi total ransomeware pada tahun 2020.

Menurut data yang dilaporkan oleh lembaga keuangan, terdapat lebih dari $590 juta pembayaran terkait dengan serangan ransomware termasuk cryptocurrency ke Jaringan Penegakan Kejahatan Keuangan (FinCEN). Data tahun 2021 tersebut melampaui total data di tahun 2020 yang hanya menyentuh angka $416 juta.

Baca juga Menteri Keuangan Zimbabwe Menyatakan bahwa Cryptocurrency Tidak Dapat Diabaikan

Angka tersebut menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi.  Melalui siaran pers yang dilakukan oleh Departemen Keuangan, mereka menyatakan bahwa penyerang semakin meminta pembayaran dalam cryptocurrency anonymity-enhanced seperti monero.

Selain itu, penyerang juga menggunakan mixer, pertukaran terdesentralisasi, alamat dompet baru, dan melompat antar rantai sebagai upaya untuk menghindari petugas penegak hukum. Hal itu diungkapkan oleh SAR Kripto melalu pers rilis.

Berkaitan dengan hal tersebut, Todd Conklin selaku salah satu pejabat Departemen Keuangan FinCEN menghitung jumlah yang dilaporkan melalui Suspicious Activity Reports (SARs) mencapai angka $5.3 miliar dalam transaksi yang mungkin memiliki potensi terkait dengan pembayaran ransomware.

Pengumuman tersebut disebut sebagai bagian dari dorongan yang lebih luas dari Departemen Keuangan terhadap ransomeware. Ransomeware— penyerang mengenkripsi komputer atau jaringan korban hingga korban melakukan transaksi uang tebusan untuk kunci deskripsi dan telah digunakan secara masif pada tahun 2021.

Terkait dengan hal tersebut, Departemen Keuangan menambahkan platform kripto over-the-counter ke dalam black list global untuk pertama kalinya dalam perjuangan berkelanjutannya untuk meredam serangan ransomeware dan pembayaran.

Selain temuan FinCEN, Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) Departemen Keuangan menerbitkan brosur yang berisi panduan kepatuhan sanksi untuk bisnis kripto. Di dalamnya dijelaskan secara rinci terkait persyaratan untuk orang dan entitas AS yang melakukan kontak dengan mata uang kripto yang telah diblokir.

Dokumen tersebut juga mencakup praktik dan kontrol terbaik yang direkomendasikan dan dapat diterapkan oleh bisnis industri kripto untuk tetap mematuhi hukum federal.

Sumber:

https://www.coindesk.com/policy/2021/10/15/ransomware-payments-in-2021-already-dwarfs-last-years-total-fincen-reports/

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here