LG Electronics Menyelami Pasar Cryptocurrency dan Teknologi Blockchain

LG Electronics telah memperluas cakupan bisnisnya dengan menerjuni cryptocurrency dan blockchain. Strategi ekspansi bisnis perusahaan teknologi asal Korea Selatan tersebut telah disetujui dalam rapat pemegang saham pada minggu lalu.

LG telah mengisyaratkan bahwa inovasinya akan mencakup penciptaan dan penjualan teknologi berbasis blockchain. Selain itu, LG pun berniat melakukan penjualan dan perdagangan berbasis cryptocurrency.

Namun, ketika ditanya apakah LG sedang mempertimbangkan untuk meluncurkan bursa mata uang digitalnya sendiri, juru bicara perusahaan tersebut menyatakan:

“Pada saat ini, belum ada yang diputuskan. Kami hanya mendiskusikan beberapa kategori dasar bisnis.”

- Advertisement -

Cryptocurrency Memasuki Babak Baru

Yoon Suk-Yeol, presiden terpilih Korea Selatan, yang akan menjabat pada 10 Mei, telah menjadi perbincangan hangat baru-baru ini. Lantaran mantan Jaksa Agung yang berusia 61 tahun tersebut telah berkomitmen untuk membentuk regulasi menguntungkan bagi meningkatkan adopsi crypto di negara ini.

Baca juga Florida akan Menerima Cryptocurrency sebagai Pembayaran Pajak Bisnis Negara

Yoon hampir mengalahkan lawannya dari Partai Liberal, Jae-Myung, dengan kurang dari 1% suara, menjadikannya salah satu pemilu tersengit dalam sejarah partai ini.

Terlepas dari ketidakpastian ekonomi global, yang sebagian diperburuk oleh invasi Rusia, banyak yang berspekulasi bahwa kemenangan Yoon telah mendorong euforia yang sangat dibutuhkan di pasar cryptocurrency.

Di negara lain, India tengah mengupayakan untuk mengklarifikasi ambiguitas regulasi yang telah menghambat pertumbuhan industri kripto-nya. Sebuah proposal bertajuk ‘Cryptocurrency Tax and Regulatory Bill,’ yang akan mengklasifikasikan aset virtual sebagai instrumen keuangan yang dapat dikurangkan dari pajak dan sah di India, kini sedang menunggu persetujuan.

Pada 21 Maret 2021, wakil menteri komunikasi dan multimedia Malaysia, Datuk Zahidi Zainul Abidin, meminta pemerintah untuk menjajaki kemungkinan legalisasi Bitcoin. Alasan dibaliknya adalah untuk meningkatkan keterlibatan anak muda dalam teknologi kreatif.

Ide itu, bagaimanapun, telah dihentikan. Wakil menteri keuangan negara itu, Dato’ IR Haji Amiruddin Hamzah, telah menyatakan dengan tegas bahwa “cryptocurrency seperti Bitcoin tidak cocok untuk digunakan sebagai instrumen pembayaran karena berbagai keterbatasan.”

Sumber: Crypto.News 

LG Electronics telah memperluas cakupan bisnisnya dengan menerjuni cryptocurrency dan blockchain. Strategi ekspansi bisnis perusahaan teknologi asal Korea Selatan tersebut telah disetujui dalam rapat pemegang saham pada minggu lalu.

LG telah mengisyaratkan bahwa inovasinya akan mencakup penciptaan dan penjualan teknologi berbasis blockchain. Selain itu, LG pun berniat melakukan penjualan dan perdagangan berbasis cryptocurrency.

Namun, ketika ditanya apakah LG sedang mempertimbangkan untuk meluncurkan bursa mata uang digitalnya sendiri, juru bicara perusahaan tersebut menyatakan:

“Pada saat ini, belum ada yang diputuskan. Kami hanya mendiskusikan beberapa kategori dasar bisnis.”

Cryptocurrency Memasuki Babak Baru

Yoon Suk-Yeol, presiden terpilih Korea Selatan, yang akan menjabat pada 10 Mei, telah menjadi perbincangan hangat baru-baru ini. Lantaran mantan Jaksa Agung yang berusia 61 tahun tersebut telah berkomitmen untuk membentuk regulasi menguntungkan bagi meningkatkan adopsi crypto di negara ini.

Baca juga Florida akan Menerima Cryptocurrency sebagai Pembayaran Pajak Bisnis Negara

Yoon hampir mengalahkan lawannya dari Partai Liberal, Jae-Myung, dengan kurang dari 1% suara, menjadikannya salah satu pemilu tersengit dalam sejarah partai ini.

Terlepas dari ketidakpastian ekonomi global, yang sebagian diperburuk oleh invasi Rusia, banyak yang berspekulasi bahwa kemenangan Yoon telah mendorong euforia yang sangat dibutuhkan di pasar cryptocurrency.

Di negara lain, India tengah mengupayakan untuk mengklarifikasi ambiguitas regulasi yang telah menghambat pertumbuhan industri kripto-nya. Sebuah proposal bertajuk ‘Cryptocurrency Tax and Regulatory Bill,’ yang akan mengklasifikasikan aset virtual sebagai instrumen keuangan yang dapat dikurangkan dari pajak dan sah di India, kini sedang menunggu persetujuan.

Pada 21 Maret 2021, wakil menteri komunikasi dan multimedia Malaysia, Datuk Zahidi Zainul Abidin, meminta pemerintah untuk menjajaki kemungkinan legalisasi Bitcoin. Alasan dibaliknya adalah untuk meningkatkan keterlibatan anak muda dalam teknologi kreatif.

Ide itu, bagaimanapun, telah dihentikan. Wakil menteri keuangan negara itu, Dato’ IR Haji Amiruddin Hamzah, telah menyatakan dengan tegas bahwa “cryptocurrency seperti Bitcoin tidak cocok untuk digunakan sebagai instrumen pembayaran karena berbagai keterbatasan.”

Sumber: Crypto.News 

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here