Manfaat dan Hambatan Sharding Bagi Jaringan Blockchain

Jaringan blockchain dan cryptocurrency menjadi semakin populer karena penerapan teknologi yang semakin meluas. Ini juga mencakup manajemen rantai pasokan dan transaksi keuangan. Seiring dengan meningkatnya popularitas blockchain, beban kerja dan volume transaksi yang ditangani oleh jaringan juga semakin meningkat.
Maka dari itu, jaringan perlu menemukan cara baru untuk dapat memproses seluruh data itu secara efisien dan cepat. Di sinilah sharding berperan.

Apa itu Sharding?

Sharding merupakan teknik partisi basis data yang digunakan oleh perusahaan blockchain dengan tujuan skalabilitas. Ini memungkinkan jaringan untuk memproses lebih banyak transaksi setiap detik.

Baca juga Bank Sentral El Salvador Menyetujui Pendaftaran Qredo untuk Menyediakan Layanan Kripto

Nantinya, sharding akan membagi seluruh jjaringan perusahaan blockchain menjadi partisi yang lebih kecil, yang dikenal sebagai shards. Setiap shards terdiri dari datanya sendiri, sehingga membuatnya berbeda dan independen jika dibandingkan dengan shard lainnya.

Apa Fungsi Sharding?

Selain meningkatkan jumlah transaksi setiap detik, sharding juga dapat membantu mengurangi latensi atau kelambatan jaringan. Ini karena sharding dapat membagi jaringan blockchain menjadi shards yang terpisah. Namun, terdapat beberapa masalah keamanan seputar sharding karena shard rentan terhadap insiden penyerangan.

Ada Apa Dengan Keamanan Sharding?

Meskipun setiap shards terpisah dan hanya memproses datanya sendiri, terdapat masalah keamanan terkait kerusakan shards itu sendiri. Ini karena satu shards mengambil alih shards lain yang mengakibatkan hilangnya informasi atau data.
Jika kita menganggap setiap shards sebagai jaringan blockchainnya sendiri dengan pengguna dan data yang diautentikasi, peretas atau melalui serangan siber dapat mengambil alih shards. Peretas kemudian dapat memperkenalkan transaksi palsu atau program yang menipu.
Menjadi penting untuk diketahui bahwa sharding masih dalam tahap pengujian untuk digunakan dalam jaringan blockchain. Hal ini membuat seluruh potensi masalah dan tantangan di dalamnya belum sepenuhnya terselesaikan dengan baik.

Pengujian Sharding oleh Ethereum

Ethereum merupakan salah satu perusahaan blockchain yang melakukan pengujian sharding sebagai siolusi masalah latensi dan skalabilitas. Ethereum berencana untuk meluncurkan 64 rantai shards melalui merger. Di sini, Ethereum Mainnet akan bergabung dengan sistem PoS Beacon Chain.
Ethereum telah memerangi potensi serangan shards dengan menetapkan node secara acak ke shards tertentu. Kemudian, jaringan menugaskannya untuk kembali pada interval acak. Pengambilan sampel acak ini akan mempersulit peretas untuk mengetahui kapan dan di mana shards dapat diserang.
Jaringan blockchain dan cryptocurrency menjadi semakin populer karena penerapan teknologi yang semakin meluas. Ini juga mencakup manajemen rantai pasokan dan transaksi keuangan. Seiring dengan meningkatnya popularitas blockchain, beban kerja dan volume transaksi yang ditangani oleh jaringan juga semakin meningkat.
Maka dari itu, jaringan perlu menemukan cara baru untuk dapat memproses seluruh data itu secara efisien dan cepat. Di sinilah sharding berperan.

Apa itu Sharding?

Sharding merupakan teknik partisi basis data yang digunakan oleh perusahaan blockchain dengan tujuan skalabilitas. Ini memungkinkan jaringan untuk memproses lebih banyak transaksi setiap detik.

Baca juga Bank Sentral El Salvador Menyetujui Pendaftaran Qredo untuk Menyediakan Layanan Kripto

Nantinya, sharding akan membagi seluruh jjaringan perusahaan blockchain menjadi partisi yang lebih kecil, yang dikenal sebagai shards. Setiap shards terdiri dari datanya sendiri, sehingga membuatnya berbeda dan independen jika dibandingkan dengan shard lainnya.

Apa Fungsi Sharding?

Selain meningkatkan jumlah transaksi setiap detik, sharding juga dapat membantu mengurangi latensi atau kelambatan jaringan. Ini karena sharding dapat membagi jaringan blockchain menjadi shards yang terpisah. Namun, terdapat beberapa masalah keamanan seputar sharding karena shard rentan terhadap insiden penyerangan.

Ada Apa Dengan Keamanan Sharding?

Meskipun setiap shards terpisah dan hanya memproses datanya sendiri, terdapat masalah keamanan terkait kerusakan shards itu sendiri. Ini karena satu shards mengambil alih shards lain yang mengakibatkan hilangnya informasi atau data.
Jika kita menganggap setiap shards sebagai jaringan blockchainnya sendiri dengan pengguna dan data yang diautentikasi, peretas atau melalui serangan siber dapat mengambil alih shards. Peretas kemudian dapat memperkenalkan transaksi palsu atau program yang menipu.
Menjadi penting untuk diketahui bahwa sharding masih dalam tahap pengujian untuk digunakan dalam jaringan blockchain. Hal ini membuat seluruh potensi masalah dan tantangan di dalamnya belum sepenuhnya terselesaikan dengan baik.

Pengujian Sharding oleh Ethereum

Ethereum merupakan salah satu perusahaan blockchain yang melakukan pengujian sharding sebagai siolusi masalah latensi dan skalabilitas. Ethereum berencana untuk meluncurkan 64 rantai shards melalui merger. Di sini, Ethereum Mainnet akan bergabung dengan sistem PoS Beacon Chain.
Ethereum telah memerangi potensi serangan shards dengan menetapkan node secara acak ke shards tertentu. Kemudian, jaringan menugaskannya untuk kembali pada interval acak. Pengambilan sampel acak ini akan mempersulit peretas untuk mengetahui kapan dan di mana shards dapat diserang.

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here