McNelisMany: Banyak Proyek NFT yang Kurang Melakukan Uji Coba pada Smart Contract Proyeknya

Illust - McNelisMany Banyak Proyek NFT yang Kurang Melakukan Uji Coba pada Smart Contract Proyeknya
Sumber Asset: Flat-hand drawn people analyzing growth charts created by pikisuperstar – www.freepik.com

Tahun lalu, koleksi Akutars NFT menjual 15.000 token, tapi sebagian besar Ether (ETH) yang mereka dapatkan, yaitu senilai $33 juta yang dihasilkan dari penjualan, justru dikunci ke dalam smart contract yang tidak dapat diakses.

Terkait hal ini, Jimmy McNelis, pendiri perusahaan teknologi Web3 Nameless, mengatakan bahwa saat ini sudah ada terlalu banyak proyek non fungible token (NFT) yang terlalu terburu-buru memasuki pasar NFT. Dan mereka tidak melakukan uji coba terlebih dahulu untuk mendapatkan smart contract yang tepat. Alhasil, mereka pun berpotensi menyebabkan jutaan kerugian.

McNelis juga mengatakan bahwa banyak proyek NFT tidak sepenuhnya mensimulasikan bagaimana smart contract mereka akan bekerja sebelum terjun ke pasar NFT. Dan dalam beberapa kasus, mereka bahkan ada yang melewatkan audit ekstensif.

McNelis mengatakan bahwa contoh proyek yang seperti ini dapat kita amati selama penjualan koleksi NFT Akutars pada Februari 2021. Saat itu, mereka menampilkan 15.000 token yang dijual di marketplace NFT milik Winklevoss, Nifty Gateway.

- Advertisement -

Baca juga: Donnie Meluncurkan Marketplace dan Koleksi NFT

Dan sementara NFT mereka terjual habis, ada bug krusial yang muncul dan membuat Ether (ETH) senilai $33 juta yang dihasilkan dari penjualan tersebut terkunci dalam smart contract yang tidak dapat diakses oleh developer.

Menanggapi kasus tersebut, McNelis mengatakan, “Itu adalah hal yang dapat mereka uji secara lebih jauh di lingkungan pengujian pribadi. Dan mereka seharusnya bisa menjalankan pengujian terhadap kasus penjualan seperti itu. Hal tersebut kemungkinan tidak mereka lakukan, atau bisa jadi mereka lakukan, namun di testnet publik.”

Oleh karena itulah McNelis menekankan pentingnya untuk melalui fase pengujian dengan benar. Apalagi, bug smart contract tidak dapat ditambal setelah peluncuran. Menurutnya, “Fase pengujian sebuah proyek sangat penting karena itu akan benar-benar menentukan keberhasilan peluncuran atau perilisan proyek Anda sejauh solusi teknis dan pasar berjalan.”

McNelis menjelaskan bahwa proyek memang dapat menggunakan jaringan uji publik untuk melakukan uji coba untuk jaringan seperti Ethereum. Tapi, banyak yang tidak melakukannya karena berpotensi akan ditiru. Dia juga mengatakan bahwa beberapa proyek tidak ingin menguji di lingkungan publik karena kurangnya kerahasiaan.

Sumber: cointelegraph.com 

Illust - McNelisMany Banyak Proyek NFT yang Kurang Melakukan Uji Coba pada Smart Contract Proyeknya
Sumber Asset: Flat-hand drawn people analyzing growth charts created by pikisuperstar – www.freepik.com

Tahun lalu, koleksi Akutars NFT menjual 15.000 token, tapi sebagian besar Ether (ETH) yang mereka dapatkan, yaitu senilai $33 juta yang dihasilkan dari penjualan, justru dikunci ke dalam smart contract yang tidak dapat diakses.

Terkait hal ini, Jimmy McNelis, pendiri perusahaan teknologi Web3 Nameless, mengatakan bahwa saat ini sudah ada terlalu banyak proyek non fungible token (NFT) yang terlalu terburu-buru memasuki pasar NFT. Dan mereka tidak melakukan uji coba terlebih dahulu untuk mendapatkan smart contract yang tepat. Alhasil, mereka pun berpotensi menyebabkan jutaan kerugian.

McNelis juga mengatakan bahwa banyak proyek NFT tidak sepenuhnya mensimulasikan bagaimana smart contract mereka akan bekerja sebelum terjun ke pasar NFT. Dan dalam beberapa kasus, mereka bahkan ada yang melewatkan audit ekstensif.

McNelis mengatakan bahwa contoh proyek yang seperti ini dapat kita amati selama penjualan koleksi NFT Akutars pada Februari 2021. Saat itu, mereka menampilkan 15.000 token yang dijual di marketplace NFT milik Winklevoss, Nifty Gateway.

Baca juga: Donnie Meluncurkan Marketplace dan Koleksi NFT

Dan sementara NFT mereka terjual habis, ada bug krusial yang muncul dan membuat Ether (ETH) senilai $33 juta yang dihasilkan dari penjualan tersebut terkunci dalam smart contract yang tidak dapat diakses oleh developer.

Menanggapi kasus tersebut, McNelis mengatakan, “Itu adalah hal yang dapat mereka uji secara lebih jauh di lingkungan pengujian pribadi. Dan mereka seharusnya bisa menjalankan pengujian terhadap kasus penjualan seperti itu. Hal tersebut kemungkinan tidak mereka lakukan, atau bisa jadi mereka lakukan, namun di testnet publik.”

Oleh karena itulah McNelis menekankan pentingnya untuk melalui fase pengujian dengan benar. Apalagi, bug smart contract tidak dapat ditambal setelah peluncuran. Menurutnya, “Fase pengujian sebuah proyek sangat penting karena itu akan benar-benar menentukan keberhasilan peluncuran atau perilisan proyek Anda sejauh solusi teknis dan pasar berjalan.”

McNelis menjelaskan bahwa proyek memang dapat menggunakan jaringan uji publik untuk melakukan uji coba untuk jaringan seperti Ethereum. Tapi, banyak yang tidak melakukannya karena berpotensi akan ditiru. Dia juga mengatakan bahwa beberapa proyek tidak ingin menguji di lingkungan publik karena kurangnya kerahasiaan.

Sumber: cointelegraph.com 

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here