Regulasi Cryptocurrency di Kuba telah Diperbaharui

Listen Audio Button

Mengutip laporan dari Reuters, bank sentral Kuba telah mengumumkan regulasi baru bagi penyedia layanan aset virtual yang beroperasi di negara tersebut.

Sebelumnya, pada tahun 2021, pemerintah Kuba telah mengizinkan penggunaan mata uang kripto untuk penduduknya. Pada 26 April, bank telah menyatakan bahwa setiap proyek crypto yang tertarik untuk melakukan bisnis di negara tersebut akan memerlukan lisensi dari regulator. Untuk sementara, izin ini hanya berlaku selama satu tahun.

Para pengamat industri ini berspekulasi bahwa, penggunaan kripto oleh Kuba mungkin merupakan strategi bagi negara tersebut untuk menghindari sanksi ekonomi AS. AS telah memberikan sanksi yang berat kepada negara kepulauan itu selama beberapa dekade, sehingga mempersulit sistem keuangannya untuk berkembang.

- Advertisement -

Warga Kuba memiliki akses yang minim terhadap pasar keuangan tradisional dan sistem pembayaran lainnya. Dampak lainnya dari embargo perdagangan AS adalah warga Kuba tidak memiliki kartu debit atau kredit untuk pembayaran asing.

Akses Internet Meningkatkan Adopsi Cryptocurrency

Sejak kedatangan internet seluler di Kuba beberapa tahun yang lalu, popularitas cryptocurrency telah meningkat secara dramatis. Akses tersebut memberikan jalan baru bagi warga Kuba untuk berpartisipasi dalam transaksi lintas batas dari dalam negeri.

Baca juga Republik Afrika Tengah adalah Negara Pertama Afrika yang Mengadopsi Bitcoin (BTC)

Pavel Vidal, mantan ekonom bank sentral Kuba yang sekarang menjadi profesor di Pontificia Universidad Javeriana Cali, mengomentari undang-undang baru tersebut.

“Jika bank sentral membuat kerangka legislatif yang ramah cryptocurrency, itu karena mereka telah menentukan bahwa itu berpotensi dalam menguntungkan negara.”

Meskipun Vidal tidak membayangkan Kuba mengadopsi cryptocurrency sebagai mata uang nasionalnya, dia yakin itu tetap dapat memberikan alternatif yang layak. Aturan baru ini berpotensi menurunkan biaya transaksi luar negeri dan menciptakan alternatif bagi bisnis berbasis dolar yang tidak terlalu rentan terhadap sanksi internasional.

Adopsi Cryptocurrency Tetap Tinggi

Dengan semakin populernya mata uang kripto, semakin banyak negara yang mempertimbangkan cara mengatur mata uang kripto dan aset virtual. El Salvador, misalnya, tetap menjadi negara paling populer yang menggunakan Bitcoin sebagai mata uang nasionalnya. Sementara itu, pada 25 April, Republik Afrika Tengah menyetujui Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah dalam upaya untuk meningkatkan ekonominya yang sedang mengalami krisis.

Sumber: Cryptoslate

Listen Audio Button

Mengutip laporan dari Reuters, bank sentral Kuba telah mengumumkan regulasi baru bagi penyedia layanan aset virtual yang beroperasi di negara tersebut.

Sebelumnya, pada tahun 2021, pemerintah Kuba telah mengizinkan penggunaan mata uang kripto untuk penduduknya. Pada 26 April, bank telah menyatakan bahwa setiap proyek crypto yang tertarik untuk melakukan bisnis di negara tersebut akan memerlukan lisensi dari regulator. Untuk sementara, izin ini hanya berlaku selama satu tahun.

Para pengamat industri ini berspekulasi bahwa, penggunaan kripto oleh Kuba mungkin merupakan strategi bagi negara tersebut untuk menghindari sanksi ekonomi AS. AS telah memberikan sanksi yang berat kepada negara kepulauan itu selama beberapa dekade, sehingga mempersulit sistem keuangannya untuk berkembang.

Warga Kuba memiliki akses yang minim terhadap pasar keuangan tradisional dan sistem pembayaran lainnya. Dampak lainnya dari embargo perdagangan AS adalah warga Kuba tidak memiliki kartu debit atau kredit untuk pembayaran asing.

Akses Internet Meningkatkan Adopsi Cryptocurrency

Sejak kedatangan internet seluler di Kuba beberapa tahun yang lalu, popularitas cryptocurrency telah meningkat secara dramatis. Akses tersebut memberikan jalan baru bagi warga Kuba untuk berpartisipasi dalam transaksi lintas batas dari dalam negeri.

Baca juga Republik Afrika Tengah adalah Negara Pertama Afrika yang Mengadopsi Bitcoin (BTC)

Pavel Vidal, mantan ekonom bank sentral Kuba yang sekarang menjadi profesor di Pontificia Universidad Javeriana Cali, mengomentari undang-undang baru tersebut.

“Jika bank sentral membuat kerangka legislatif yang ramah cryptocurrency, itu karena mereka telah menentukan bahwa itu berpotensi dalam menguntungkan negara.”

Meskipun Vidal tidak membayangkan Kuba mengadopsi cryptocurrency sebagai mata uang nasionalnya, dia yakin itu tetap dapat memberikan alternatif yang layak. Aturan baru ini berpotensi menurunkan biaya transaksi luar negeri dan menciptakan alternatif bagi bisnis berbasis dolar yang tidak terlalu rentan terhadap sanksi internasional.

Adopsi Cryptocurrency Tetap Tinggi

Dengan semakin populernya mata uang kripto, semakin banyak negara yang mempertimbangkan cara mengatur mata uang kripto dan aset virtual. El Salvador, misalnya, tetap menjadi negara paling populer yang menggunakan Bitcoin sebagai mata uang nasionalnya. Sementara itu, pada 25 April, Republik Afrika Tengah menyetujui Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah dalam upaya untuk meningkatkan ekonominya yang sedang mengalami krisis.

Sumber: Cryptoslate

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here