Wanita di Blockchain: Pengaruh Global Emi Yoshikawa

Industri blockchain, kripto, maupun fintech masih didominasi oleh laki-laki dan kenyataan ini semakin memperlebar kesenjangan. Namun, kaum wanita di blockchain mampu bertahan dan membuka jalan bagi generasi mendatang untuk memasuki ruang ini dengan percaya diri.

Kaum wanita di blockchain mendorong munculnya komunitas pelopor guna mendiversifikasi industri lebih jauh, salah satunya adalah Emi Yoshikawa selaku Wakil Presiden Strategi dan Operasi Ripple. Yoshikawa dan beberapa pengusaha wanita lainnya mendiskusikan pengalaman mereka di ruang blockhain.

Yoshikawa menceritakan bahwa ia mulai tertarik pada kripto setelah ia melihat potensi dalam industri kripto, salah satunya adalah kripto mampu mengisi celah sistem keuangan tradisional. Sebagai alumnus Harvard Business School, Yoshikawa bekerja di Ripple sejak 2016.

Walaupun memiliki gelar Harvard dan pengalaman di industri blockchain selama enam tahun, Yoshikawa mengakui ia masih merasa ragu akan dirinya sendiri, tetapi ia tetap mencari peluang lain seperti memberikan ceramah dan opini untuk memposisikan dirinya sebagai pemimpin di industri ini.

- Advertisement -

Baca juga LG Electronics Menyelami Pasar Cryptocurrency dan Teknologi Blockchain

Kathleen Chu selaku Kepala Komunikasi di Polygon dan Shirley Kwok selaku Direktur Bisnis Internasional di OKX, kedua wanita tersebut percaya bahwa menanggung risiko dan mengetahui kegagalan untuk bergerak maju adalah pola pikir yang dapat membantu wanita melangkah ke tingkat berikutnya.

“Kripto bergerak cepat dan industri ini masih sangat baru, orang-orang masih belajar tentang ini. Seseorang akan membuat kesalahan, tetapi mereka dapat melanjutkan ke langkah berikutnya,” kata Kwok.

Sebagai kepala pemasaran APAC untuk TZ APAC, Katherine Ng memprioritaskan untuk memberikan kesempatan yang adil di tempat kerja. Ia mencatat tekanan yang diberikan pada wanita Asia Tenggara untuk mematuhi harapan budaya tertentu dan telah menemukan keberanian untuk berbicara sendiri melalui sekutu yang kuat ataupun kepemimpinan yang mendukung.

Keempat wanita tersebut bersemangat untuk membangun kesadaran di industri ini. Tidak hanya seputar peluang untuk belajar, tumbuh, dan memajukan karier seseorang di blockchain, tetapi juga membina sebuah komunitas.

“Dengan memiliki lebih banyak representasi wanita, para wanita lainnya yang tertarik untuk terjun ke industri kripto dan blockchain dapat merasa lebih nyaman, terhubung, maupun didorong untuk ikut terlibat,” kata Yoshikawa.

Sumber: Ripple

Industri blockchain, kripto, maupun fintech masih didominasi oleh laki-laki dan kenyataan ini semakin memperlebar kesenjangan. Namun, kaum wanita di blockchain mampu bertahan dan membuka jalan bagi generasi mendatang untuk memasuki ruang ini dengan percaya diri.

Kaum wanita di blockchain mendorong munculnya komunitas pelopor guna mendiversifikasi industri lebih jauh, salah satunya adalah Emi Yoshikawa selaku Wakil Presiden Strategi dan Operasi Ripple. Yoshikawa dan beberapa pengusaha wanita lainnya mendiskusikan pengalaman mereka di ruang blockhain.

Yoshikawa menceritakan bahwa ia mulai tertarik pada kripto setelah ia melihat potensi dalam industri kripto, salah satunya adalah kripto mampu mengisi celah sistem keuangan tradisional. Sebagai alumnus Harvard Business School, Yoshikawa bekerja di Ripple sejak 2016.

Walaupun memiliki gelar Harvard dan pengalaman di industri blockchain selama enam tahun, Yoshikawa mengakui ia masih merasa ragu akan dirinya sendiri, tetapi ia tetap mencari peluang lain seperti memberikan ceramah dan opini untuk memposisikan dirinya sebagai pemimpin di industri ini.

Baca juga LG Electronics Menyelami Pasar Cryptocurrency dan Teknologi Blockchain

Kathleen Chu selaku Kepala Komunikasi di Polygon dan Shirley Kwok selaku Direktur Bisnis Internasional di OKX, kedua wanita tersebut percaya bahwa menanggung risiko dan mengetahui kegagalan untuk bergerak maju adalah pola pikir yang dapat membantu wanita melangkah ke tingkat berikutnya.

“Kripto bergerak cepat dan industri ini masih sangat baru, orang-orang masih belajar tentang ini. Seseorang akan membuat kesalahan, tetapi mereka dapat melanjutkan ke langkah berikutnya,” kata Kwok.

Sebagai kepala pemasaran APAC untuk TZ APAC, Katherine Ng memprioritaskan untuk memberikan kesempatan yang adil di tempat kerja. Ia mencatat tekanan yang diberikan pada wanita Asia Tenggara untuk mematuhi harapan budaya tertentu dan telah menemukan keberanian untuk berbicara sendiri melalui sekutu yang kuat ataupun kepemimpinan yang mendukung.

Keempat wanita tersebut bersemangat untuk membangun kesadaran di industri ini. Tidak hanya seputar peluang untuk belajar, tumbuh, dan memajukan karier seseorang di blockchain, tetapi juga membina sebuah komunitas.

“Dengan memiliki lebih banyak representasi wanita, para wanita lainnya yang tertarik untuk terjun ke industri kripto dan blockchain dapat merasa lebih nyaman, terhubung, maupun didorong untuk ikut terlibat,” kata Yoshikawa.

Sumber: Ripple

Berita Lainnya


Tinggalkan Komentar


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here